Suarakitanews.com – Para peneliti di AS baru-baru ini menemukan fakta mengejutkan tentang tali jam tangan pintar atau smartwatch.
Studi yang dilakukan oleh University of Notre Dame mengungkap bahwa tali dari 15 merek smartwatch mengandung kadar polyfluoroalkyl substances (PFAS) yang tinggi.
Bahan kimia beracun ini diketahui dapat diserap melalui kulit dan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan serius. Temuan ini dipublikasikan dalam Jurnal Environmental Science & Technology Letters pada Rabu (18/12).
Apa Itu PFAS?
PFAS, atau polyfluoroalkyl substances, adalah bahan kimia yang terdiri dari lebih dari 15.000 senyawa. Bahan ini sering digunakan untuk membuat produk tahan air, noda, dan panas. Namun, PFAS juga dikenal sebagai “bahan kimia abadi” karena tidak mudah terurai secara alami.
Paparan PFAS telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk kanker, gangguan kekebalan tubuh, cacat lahir, dan penyakit serius lainnya.
Menurut Graham Peaslee, salah satu penulis studi, kadar PFAS yang ditemukan pada tali smartwatch jauh lebih tinggi dibandingkan produk konsumen lainnya.
“Ini sangat mengkhawatirkan karena tali smartwatch menempel di pergelangan tangan untuk waktu yang lama,” ujarnya, seperti dikutip dari The Guardian.
Bagaimana PFAS Masuk ke Tubuh?
PFAS dapat masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara, termasuk melalui air dan makanan yang terkontaminasi.
Bahan kimia ini juga sering ditemukan pada barang sehari-hari seperti teflon anti-lengket, kertas anti lemak, pembungkus makanan cepat saji, hingga produk kosmetik seperti foundation dan maskara.
Penggunaan PFAS yang meluas bahkan telah menyebabkan bahan kimia ini ditemukan di tanah, air, udara, serta dalam darah manusia dan hewan.
Temuan Studi University of Notre Dame
Penelitian ini menguji 22 merek smartwatch dan menemukan bahwa 15 di antaranya mengandung PFAS dalam kadar yang signifikan. Kadar PFAS pada tali smartwatch bahkan setara dengan yang ditemukan pada perlengkapan pemadam kebakaran.
Menurut Peaslee, hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh penggunaan fluoroelastomer, sejenis karet sintetis yang tahan terhadap minyak dan keringat, pada tali jam tangan.
Untuk mendeteksi PFAS, para peneliti menggunakan teknik spektroskopi emisi sinar gamma. Hasilnya, 15 dari 22 tali smartwatch mengandung lebih dari satu persen fluorin, indikator kuat adanya PFAS.
Selain itu, peneliti juga menemukan volume tertinggi PFHxA, salah satu senyawa PFAS, pada 40% tali jam tangan yang diuji.
Mengapa Temuan Ini Mengkhawatirkan?
Meskipun belum jelas berapa banyak PFAS yang dapat menembus kulit, paparan jangka panjang terhadap bahan kimia ini tetap menjadi ancaman serius. PFHxA, senyawa PFAS yang dominan ditemukan dalam studi ini, bahkan lebih sulit dideteksi dalam darah manusia dibandingkan jenis PFAS lainnya.
Hal ini membuat temuan ini semakin mengkhawatirkan karena potensi dampaknya terhadap kesehatan mungkin belum sepenuhnya dipahami.
Apa yang Harus Dilakukan?
Meskipun penelitian ini tidak mengungkap merek smartwatch mana saja yang mengandung PFAS, temuan ini menjadi peringatan bagi konsumen untuk lebih berhati-hati dalam memilih produk wearable technology.
Sebaiknya, cari informasi lebih lanjut tentang bahan yang digunakan pada tali smartwatch dan pertimbangkan untuk memilih produk yang bebas dari bahan kimia berbahaya.
Dengan meningkatnya kesadaran akan bahaya PFAS, diharapkan produsen smartwatch dapat mengambil langkah untuk mengurangi atau menghilangkan penggunaan bahan kimia ini dalam produk mereka.
Sementara itu, konsumen disarankan untuk selalu memperhatikan bahan dan komposisi produk yang digunakan sehari-hari demi menjaga kesehatan jangka panjang.
Penulis : Mita
Courtesy by instagram @detikInet






