Suarakitanews.com – Di tengah keindahan Pulau Maratua, tersimpan sebuah ironi. Keterbatasan tenaga kesehatan di UPTD Puskesmas Maratua menyebabkan pasien dari kampung sekitar kesulitan mendapatkan penanganan medis yang memadai. Seorang lansia, Hardi dengan usianya yang diatas 50 tahun menjadi contoh pilu dari situasi ini.
Perjuangan Mendapatkan Pertolongan
Hardi, yang menderita vertigo, harus menyeberangi lautan menuju Tanjung Redeb menggunakan speedboat reguler karena Puskesmas Maratua tidak mampu menangani penyakitnya. Pada pukul 10.25 WITA, ia terbaring di lantai speedboat, tanpa tempat khusus bagi pasien sakit. Tujuannya adalah RSUD dr Abdul Rivai di Tanjung Redeb, satu-satunya harapan untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.
Pengakuan Kepala Puskesmas
Kepala Puskesmas Maratua, Suryan, membenarkan bahwa Hardi telah memeriksakan diri di puskesmas empat hari sebelumnya. Namun, karena tidak ada dokter yang tersedia, Hardi terpaksa dipulangkan. Kondisi vertigo yang dideritanya semakin parah, sehingga keluarganya memutuskan untuk membawanya sendiri ke Tanjung Redeb.
Minimnya Tenaga Kesehatan
Suryan menjelaskan bahwa puskesmasnya kekurangan tenaga kesehatan. Akibatnya, mereka lebih fokus pada pelayanan promotif dan preventif, sementara pelayanan kuratif tidak dapat dilakukan secara optimal.
Dampak Pengurangan Nakes Kontrak
Sejak pengurangan nakes kontrak di fasilitas kesehatan pemerintah, jumlah surat rujukan puskesmas menurun drastis. Warga lebih memilih menyeberangkan pasien langsung ke kota daripada datang ke puskesmas terlebih dahulu.
Harapan akan Perubahan
Suryan berharap krisis nakes ini dapat segera diatasi. Ia khawatir jika situasi ini terus berlanjut, akan ada lebih banyak pasien yang tidak mendapatkan penanganan medis tepat waktu.
Penulis : Mita






