Jakarta, Suara Kita News – Transisi energi menjadi isu hangat di 100 hari pertama pemerintahan Prabowo-Gibran. Namun, apakah pemerintah serius dalam mengimplementasikan kebijakan yang mendukung energi bersih? Mari kita bahas bersama.
Langkah Perdana: Seberapa Serius Pemerintah Baru dalam Transisi Energi?
Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional menjadi sorotan. Meskipun bertujuan mempercepat hilirisasi, fokus yang masih terpaku pada energi fosil seperti batu bara dan gas menimbulkan kekhawatiran akan memperpanjang dominasi energi kotor dan menghambat transisi ke energi terbarukan yang lebih berkelanjutan.
Masa Depan Energi Indonesia: Apakah Kita Siap Lepas dari Batu Bara?
Pernyataan Presiden Prabowo di KTT G20 Rio de Janeiro tentang penghentian total PLTU batubara dalam 15 tahun mendatang menjadi sorotan global. Komitmen ini menandai langkah signifikan Indonesia menuju transisi energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, namun tantangan implementasi dan kepastian kebijakan masih menjadi pertanyaan besar.
Ironisnya, meskipun telah berkomitmen untuk menghentikan PLTU batubara, kenyataannya sejumlah PLTU baru seperti PLTU Mulut Tambang dan Jawa 9-10 justru baru mulai beroperasi. Kontradiksi ini menimbulkan pertanyaan besar terkait keseriusan pemerintah dalam mencapai target transisi energi.
Batu Bara di Persimpangan: Antara Hilirisasi dan Transisi Energi
Pembangunan PLTU batubara baru, terutama untuk mendukung hilirisasi industri, berlangsung seiringan dengan rencana penghentian bertahap PLTU. Fokus pada batubara sebagai tulang punggung energi untuk hilirisasi menunjukkan bahwa transisi energi di Indonesia masih menghadapi tantangan yang kompleks.
Janji Manis Energi Terbarukan: Realita atau Sekedar Mimpi?
Selain itu, pada KTT APEC di Peru, beliau menyampaikan Indonesia berpotensi mencapai 100% penggunaan energi terbarukan dalam beberapa tahun mendatang.
Meskipun terdapat target ambisius untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan, kenyataan di lapangan menunjukkan perkembangan yang sangat lambat. Hanya 14% dari total energi berasal dari sumber terbarukan, dengan pertumbuhan tahunan yang minim. Ketiadaan roadmap yang jelas semakin menghambat upaya transisi energi di Indonesia.
Jebakan Hilirisasi: Antara Keuntungan Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan
Meskipun digadang-gadang sebagai solusi transisi energi, hilirisasi justru membawa dampak negatif bagi masyarakat. Faktanya, di lapangan banyak ditemukan kasus kerusakan lingkungan dan sosial yang diakibatkan oleh aktivitas hilirisasi.
Sayangnya, Upaya percepatan produksi kendaraan listrik melalui intensifikasi pertambangan nikel justru menimbulkan dilema lingkungan. Aktivitas pertambangan dan pembangunan industri nikel di Sulawesi dan Maluku, misalnya, telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah dan meningkatkan emisi gas rumah kaca.
Seratus hari pertama pemerintahan baru menjadi momen krusial untuk mempercepat transisi energi. Fokus pada energi terbarukan seperti surya, angin, dan hidro akan membuka peluang ekonomi baru dan melindungi lingkungan untuk generasi mendatang.








