Banjir Bandang Sukabumi: Alam Berteriak, Siapa yang Bersalah?

Suara Kita News – Akhir tahun 2024 menjadi duka mendalam bagi masyarakat Sukabumi. Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah ini telah mengakibatkan kerusakan parah pada infrastruktur dan lingkungan. Ironisnya, di tengah penderitaan tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah bencana ini terkait erat dengan maraknya aktivitas pertambangan yang menggerogoti hutan Sukabumi? Mengingat 65% hutan di wilayah ini telah gundul, dugaan adanya korelasi antara keduanya semakin menguat.

Sukabumi Darurat Bencana: Ribuan Warga Terdampak, Infrastruktur Rusak Parah

Awal Desember 2024 menjadi masa sulit bagi warga Sukabumi. Bencana alam kompleks berupa banjir bandang, longsor, dan tanah bergerak melanda 39 kecamatan, menghancurkan ratusan desa.

Desa Lembur Sawah di Kecamatan Pabuaran menjadi contoh nyata dampak pergerakan tanah. Hujan deras selama dua hari berturut-turut memicu bencana ini, padahal sejak tiga bulan lalu wilayah tersebut telah ditetapkan sebagai zona merah oleh Badan Geologi.

Relokasi menjadi solusi bagi 290 kepala keluarga korban bencana pergerakan tanah di Desa Lembur Sawah. Trauma dan ancaman bahaya membuat mereka memilih tempat tinggal baru yang lebih aman.

Luapan Sungai Cikaso di Kecamatan Sagaranten tidak hanya merendam rumah warga, tetapi juga merusak bangunan lainnya. Kejadian mobil hanyut pun menjadi viral dan menyita perhatian publik.

Cicin, warga setempat, mengungkapkan bahwa bencana yang baru-baru ini melanda adalah yang terparah dalam 40 tahun terakhir. Selain merendam pemukiman, bencana ini juga menyebabkan sejumlah ruas jalan di selatan Sukabumi amblas.

Lima korban jiwa menjadi bukti nyata dampak dahsyat longsor di Kecamatan Simpenan. Kedekatan lokasi bencana dengan aktivitas pertambangan memunculkan dugaan adanya korelasi antara keduanya.

65% Hutan Hilang, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Bencana alam yang melanda Sukabumi akhir tahun ini menjadi bukti nyata bahwa kerusakan lingkungan berdampak fatal. Data terbaru menunjukkan bahwa 65% hutan di wilayah tersebut telah hilang akibat aktivitas pertambangan yang tidak berkelanjutan. Kondisi ini, ditambah dengan topografi yang curam, membuat wilayah tersebut menjadi semacam bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Investigasi mendalam oleh Walhi Jabar mengungkap fakta mengejutkan: ambisi sektor pertambangan telah mengorbankan lingkungan Sukabumi. Pembukaan lahan seluas 4.200 hektare untuk proyek tambang yang melibatkan PT Wilton, PT GMB, PT Clariant, dan PT TSS telah menyebabkan kerusakan parah pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimandiri, Cikaso, dan 13 anak sungai lainnya. Akibatnya, masyarakat setempat kini menghadapi ancaman serius berupa bencana alam dan krisis air bersih.

Dalam upaya mengungkap penyebab di balik bencana alam di Sukabumi, Polres Sukabumi telah memanggil tiga perusahaan tambang untuk dimintai keterangan. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa PT Wilton, PT GMB, dan PT Golden Pricindo Indah menjadi fokus penyelidikan. Ketiga perusahaan ini beroperasi di wilayah yang mengalami kerusakan parah akibat bencana, seperti Kecamatan Ciemas dan Simpenan yang menjadi pusat longsor. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa tidak ada pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait.

Misteri di Balik Bencana Sukabumi Terkuak?

Di tengah polemik bencana alam di Sukabumi, PT GMB dan PT Golden Pricindo Indah dengan tegas membantah perannya dalam merusak lingkungan. Kedua perusahaan tambang tersebut mengklaim telah menjalankan operasi sesuai dengan prosedur dan regulasi yang berlaku. PT GMB bahkan menyatakan bahwa area tambangnya bukanlah kawasan hutan, melainkan perkebunan teh. Sementara itu, PT Golden menegaskan bahwa sungai Cimanggu yang melintasi area tambangnya tidak berkaitan dengan bencana di Ciemas atau Ciwaru. Klaim-klaim tersebut tentu saja akan terus diuji kebenarannya melalui investigasi lebih lanjut oleh pihak berwenang. (M)

Mita Putri

Artikel Terkait

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Suara Kita News, Karawang – Gerakan atau forum Gelo Commando 2026 secara resmi menyuarakan aspirasi rakyat Indonesia dengan mengusung 8 Poin Aspirasi Rakyat. Berbagai tuntutan ini mencakup isu kesejahteraan sosial,…

Lanjutkan Membaca

// // //
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Suara Kita News.com, Pilkades Desa Bangle, Kecamatan Majalaya, tengah menjadi sorotan hangat. Di tengah panggung pertarungan empat kandidat kuat, atmosfer pemilihan kali ini terasa jauh berbeda. Warga tidak lagi sekadar…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri