Jakarta, Suara Kita News – Setiap tanggal 22 Desember, Indonesia merayakan Hari Ibu sebagai bentuk penghormatan atas peran penting perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Di balik perayaan penuh suka cita ini, terdapat kisah-kisah haru yang menyentuh hati, terutama bagi para ibu yang kehilangan anak. Kehilangan anak adalah duka yang mendalam, namun semangat mereka untuk terus hidup patut kita apresiasi.
Bagi banyak ibu, pelukan hangat seorang anak adalah anugerah terindah. Namun, bagi sebagian lainnya, pelukan itu menjadi sebuah perjuangan panjang dan melelahkan. Mereka rela berjuang hingga titik darah penghabisan demi merasakan kehangatan kasih sayang seorang anak. Ya, bagi mereka, pelukan bukan sekadar sentuhan fisik, melainkan simbol dari perjuangan panjang untuk menjadi seorang ibu.
Air Mata Ibu: Kisah Haru yang Menyentuh Hati
- Anlita Sulaiman, seorang ibu yang tegar, harus menanggung beban hidup yang begitu berat. KDRT yang dialaminya bukan hanya meninggalkan bekas fisik berupa kecacatan permanen pada tangan kanannya, tetapi juga luka batin yang mendalam. Didampingi bayang-bayang trauma, Anlita terus berjuang demi bisa bertemu dengan anaknya. Perjuangannya yang tak kenal lelah ini bahkan membuatnya didiagnosis mengalami PTSD, gangguan mental yang seringkali muncul setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis.
“Melahirkan, dipukuli, itu nggak ada apa-apanya,” membuka mata kita akan dampak psikologis yang jauh lebih dalam dari kekerasan fisik. Bagi seorang ibu, kehilangan hak asuh anak adalah luka yang paling membekas. Kisahnya menjadi pengingat penting tentang betapa kompleksnya masalah KDRT dan dampaknya yang meluas.
- Hampir lima tahun lamanya, Angel hidup dalam kepedihan yang mendalam. Anaknya yang kini berusia 11 tahun raib diculik oleh mantan suami berkewarganegaraan Filipina. Sejak saat itu, ia tak pernah berhenti mencari, harapannya untuk bertemu kembali dengan sang anak tak pernah padam. Kisah Angel adalah sebuah potret perjuangan seorang ibu yang tak kenal lelah, menghadapi kenyataan pahit kehilangan anak akibat penculikan lintas negara.
I have to find my son. I can’t die before I hug him again and make him safe. – Angelia Susanto.
- Lisa, seorang ibu yang putus asa, saat ini tengah berjuang keras untuk memperpanjang waktu pertemuan dengan anaknya. Namun, di tengah keterbatasan informasi dan dukungan, ia merasa sangat kebingungan. Ke mana harus mengadu? Bagaimana caranya? Pertanyaan-pertanyaan ini terus menghantuinya, membuat perjuangannya terasa semakin berat.
“Saya seorang yatim piatu, single parent, sendirian. Untuk mencari keadilan di Indonesia, saya harus kemana?” Kalimat ini adalah refleksi dari realitas yang dihadapi oleh banyak orang di Indonesia. Ketidakberdayaan dan keputusasaan yang dirasakan oleh Lisa adalah cerminan dari sistem yang belum sepenuhnya memberikan perlindungan bagi kelompok rentan.
- “Siti Rahmawati, seorang ibu yang telah mencurahkan seluruh kasih sayangnya untuk membesarkan anak-anaknya, kini harus berjuang keras mempertahankan hak asuhnya. Setelah 13 tahun pernikahan yang retak akibat perselingkuhan, ia tidak hanya kehilangan pasangan, tetapi juga hak untuk bertemu dengan anak-anak yang telah ia rawat tanpa bantuan orang lain.” Kisah Siti menyoroti masalah ketidakadilan yang seringkali dialami oleh perempuan dalam perceraian, terutama terkait hak asuh anak.
“Anaknya bahkan sempat menganggapnya jahat,” kata Siti Rahmawati. Kisah ini mengingatkan kita akan pentingnya perlindungan bagi anak-anak dalam situasi perceraian. Anak-anak adalah korban yang paling rentan dan membutuhkan dukungan dari semua pihak untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat.
“Perampasan hak anak, termasuk penculikan oleh orang tua kandung, adalah tindakan keji yang harus ditindak tegas. Negara memiliki kewajiban moral untuk melindungi hak-hak anak dan memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang. Kasus Siti Rahmawati menjadi pengingat bagi kita semua pentingnya memperkuat sistem perlindungan anak di Indonesia, agar tidak ada lagi anak yang menjadi korban perceraian yang tidak manusiawi.” (M)








