“Kurator meminta Yos Suprapto menurunkan lima lukisannya dari pameran tunggalnya di Galeri Nasional bertajuk Kedaulatan Pangan. Yos menolak, singgung ‘pemberedelan’. Banyak yang menyebut sosok dalam lukisan Yos mirip dengan Jokowi.”
Jakarta, Suara Kita News – Geger dunia seni rupa Indonesia! Pameran tunggal Yos Suprapto di Galeri Nasional Indonesia yang sedianya digelar pada 19 Desember lalu, harus kandas di tengah jalan. Penyebabnya? Kelima lukisan dari total 30 karya yang dipamerkan dianggap terlalu provokatif, terutama satu lukisan yang disebut-sebut memiliki kemiripan dengan tokoh politik ternama. Akibatnya, perhelatan seni yang dinantikan banyak orang ini pun berakhir dengan kekecewaan.
Ditemui di Galeri Nasional di kawasan Gambir, Jakarta. Yos bercerita tentang makna dari lima lukisannya tersebut. Ada pun lima lukisan yang dimaksudkan yaitu lukisan dengan judul Konoha I, Konoha II, Niscaya, Makan Malam, dan 2019.
Dibalik Kuas: Makna Tersembunyi di 5 Lukisan Yos Suprapto yang Kontroversial

Konoha I
Dalam lukisan “Konoha 1”, Yos Suprapto menyajikan sebuah narasi visual yang penuh simbolisme. Figur raja bermahkota Jawa yang duduk di singgasana sambil menginjak sosok di bawahnya menjadi pusat perhatian. Bagi Yos, adegan ini merepresentasikan hilangnya kedaulatan pangan dan perjalanan sejarah yang panjang menuju kondisi tersebut. Sang raja, sebagai simbol kekuasaan, digambarkan tengah menikmati hasil eksploitasi atas rakyatnya. Melalui karya ini, Yos mengajak kita untuk merenungkan kompleksitas relasi antara kekuasaan, ketidakadilan, dan isu pangan.
Bagi Yos, lukisan ini adalah sebuah kritik sosial yang tajam terhadap struktur kekuasaan yang timpang dan eksploitasi terhadap rakyat, terutama dalam konteks isu kedaulatan pangan. Figur raja yang angkuh menjadi representasi dari mereka yang berkuasa, sementara sosok yang diinjak mewakili rakyat kecil yang tertindas. Melalui karya kontroversialnya ini, Yos mengajak kita untuk merenungkan kembali relasi antara kekuasaan dan ketidakadilan.
Konoha II
Dalam lukisan “Konoha II”, Yos Suprapto menyajikan gambaran yang menyayat hati tentang kondisi masyarakat kontemporer yang terjebak dalam budaya hiper-individu. Melalui figur-figur yang saling menjilat dan sosok-sosok tanpa busana, Yos secara eksplisit mengkritik mentalitas “asal bapak senang” yang telah menggerogoti nilai-nilai sosial. Karya ini menjadi cerminan dari masyarakat yang kehilangan identitas dan moralitas akibat terlalu mengejar kepentingan pribadi.
Niscaya

Lukisan ini sarat dengan simbolisme yang mendalam. Figur petani yang kurus dan tampak lelah, bertolak belakang dengan sosok orang berdasi yang gemuk dan berkharisma. Tindakan memberi makan dalam konteks ini bukan sekadar aksi berbagi, melainkan sebuah ironi. Petani yang seharusnya menikmati hasil jerih payahnya, justru memberikan sebagian besar hasil panennya kepada mereka yang memiliki kekuasaan. Melalui karya ini, Yos mengajak kita untuk merenungkan makna kerja keras dan keadilan dalam konteks produksi pangan.
Makan Malam

Lukisan karya Yos Suprapto ini berhasil memicu kontroversi dengan menggambarkan seorang petani yang tengah memberi makan anjing-anjingnya. Simbolisme yang kuat dalam karya ini mengundang berbagai interpretasi. Bagi Yos, tindakan memberi makan anjing ini merupakan sebuah metafora yang tajam, menyindir perilaku tertentu dalam masyarakat. Dengan sengaja, Yos memprovokasi penonton untuk merenungkan makna di balik tindakan yang tampak sederhana ini, terutama dalam konteks sosial yang lebih luas.
2019

Lukisan ini kaya akan simbolisme yang mengundang berbagai interpretasi. Figur petani yang sederhana berhadapan dengan bangunan megah istana menjadi kontras yang menarik. Sapi yang dituntun oleh petani dapat diartikan sebagai representasi dari sumber daya alam yang dieksploitasi. Melalui karya ini, Yos mengajak kita untuk menggali makna yang lebih dalam di balik permukaan yang tampak sederhana.
Yos Suprapto: Menyuarakan Ketidakadilan Melalui Sosok-Sosok Simbolis dalam Lukisannya
Yos Suprapto mengajak kita untuk melihat karya seninya sebagai sebuah bola yang kompleks, dengan beragam sisi yang dapat diinterpretasikan. Seperti bola yang memiliki banyak sudut pandang, lukisan-lukisannya pun demikian. Setiap individu yang memandang karya-karyanya akan membawa perspektif yang berbeda, menghasilkan beragam tafsir yang kaya. Hal ini menunjukkan bahwa seni bukan hanya sekadar visual, tetapi juga sebuah refleksi dari jiwa dan pikiran manusia. (M)








