Jakarta, Suara Kita News – Lebih dari sekadar infrastruktur, terowongan silaturahmi menjadi simbol nyata toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia. Presiden Prabowo Subianto meresmikan Terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral, Kamis (12/12).
Jejak Sejarah: Kisah di Balik Pembangunan
Terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral mulai dibangun pada 2021. Terletak di halaman depan pintu Al-Fattah, Masjid Istiqlal, terowongan ini merupakan proyek ambisius yang mewujudkan mimpi akan persatuan umat.
Pembuatan Terowongan Silaturahmi merupakan ide dari Presiden Joko Widodo, ketika dirinya meninjau proses renovasi Masjid Istiqlal, 7 Februari 2020. Saat itu, Presiden Jokowi mengutarakan keinginan membuat sebuah terowongan bawah tanah di lokasi yang menjadi ikon kebhinekaan di Jakarta.
Presiden Jokowi berharap, penghubung bawah tanah itu bisa menjadi simbol bagi kerukunan dan toleransi antarumat beragama di tanah air.
“Saya sudah menyetujui usulan dibuatnya terowongan dari Masjid Istiqlal menuju Gereja Katedral. Ini menjadi sebuah terowongan silaturahmi, terowongan bawah tanah,” kata Presiden Jokowi kala itu.
Pembangunan Terowongan Silaturahmi dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap visi Soekarno. Dengan menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral, proyek ini semakin menegaskan nilai-nilai kebhinekaan.
Tonggak Sejarah: Melihat Lebih Dekat Proses Pembangunan Terowongan Silaturahmi
Kementerian PUPR berperan penting dalam mewujudkan Terowongan Silaturahmi. Proyek ini dilakukan bersamaan dengan renovasi Masjid Istiqlal yang pertama kali dilakukan sejak 1978.
Sebelum memutuskan membangun terowongan, Kementerian PUPR sempat mempertimbangkan beberapa alternatif seperti jembatan penyeberangan atau flyover. Namun, terowongan dinilai lebih aman dan sesuai.
Dari beberapa opsi yang ada, pembangunan terowongan akhirnya dipilih sebagai solusi terbaik untuk menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Pertimbangan utama adalah keamanan dan kemudahan akses bagi pengguna.
Dengan anggaran Rp 40 miliar, pembangunan Terowongan menjadi bagian integral dari renovasi Masjid Istiqlal. Selain aspek teknis, persiapan proyek ini juga melibatkan pertimbangan matang terkait keselamatan pengguna jalan.
Untuk kelancaran pembangunannya, Polres Jakarta Pusat melakukan pengalihan arus lalu lintas selama tiga bulan, mulai dari 20 Januari hingga 31 Maret 2021.
Seberapa Panjangkah Terowongan Silaturahmi?
Dengan panjang 28,3 meter, Terowongan Silaturahmi menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Terowongan ini dirancang dengan luas 136 meter persegi, memfasilitasi mobilitas antar umat beragama.
Dibalik Pilihan Desain: Terowongan Silaturahmi yang Unik
Sebelumnya terdapat beberapa pilihan konstruksi untuk menghubungkan kedua rumah ibadah itu, salah satunya adalah jembatan penyeberangan. Namun, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan karena faktor keamanan dan keselamatan desain yang dipilih adalah terowongan bawah tanah.
Selain mempertimbangkan keamanan pengguna, pembangunan Terowongan Silaturahmi juga mengedepankan aspek pelestarian. Sebagai bangunan cagar budaya, Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral memerlukan penanganan khusus agar struktur bangunan tetap terjaga.
Dibangun pada era Presiden Soekarno, Masjid Istiqlal yang dirancang oleh arsitek Nasrani, Frederich Silaban, berdiri berdampingan dengan Gereja Katedral. Letak keduanya yang berdekatan menjadi simbol kuat toleransi beragama di Indonesia.
Fakta menarik: Masjid Istiqlal, ikon Islam di Indonesia, dirancang oleh arsitek Nasrani, Frederich Silaban. Lokasinya yang bersebelahan dengan Gereja Katedral menegaskan komitmen bangsa untuk hidup berdampingan dalam keberagaman.
Sebelum berdiri megah dengan gaya neo-gotik pada 1901, Gereja Katedral Jakarta awalnya adalah bekas rumah Letnan Gubernur Jenderal. Bangunan bersejarah ini telah mengalami beberapa kali renovasi dan pemugaran sebelum akhirnya menjadi ikon umat Katolik di Indonesia.
Paus Fransiskus melihat Terowongan Silaturahmi sebagai simbol nyata dialog antarumat beragama. Beliau menekankan pentingnya perjumpaan dan berbagi pengalaman spiritual untuk hidup bersama di Indonesia. (Mita)








