
Suara Kita News – Krisis iklim semakin nyata mengancam kehidupan kita. Kenaikan muka air laut yang menyebabkan tenggelamnya wilayah pesisir dan ancaman terhadap salju abadi di Indonesia adalah bukti tak terbantahkan. Peringatan serius dari BMKG tentang kepunahan salju abadi semakin dekat semakin menggarisbawahi urgensi tindakan nyata untuk mengatasi perubahan iklim.
Ancaman Hilangnya Salju Abadi, Data Terbaru BMKG
Data terbaru dari BMKG menunjukkan pencairan es di Puncak Jaya semakin mengkhawatirkan, dengan luasan gletser yang menyusut drastis. Hilangnya salju abadi di Indonesia ini adalah bukti nyata dari dampak pemanasan global yang semakin parah. Kenaikan suhu global telah menyebabkan gletser mencair lebih cepat, mengancam keberlangsungan ekosistem pegunungan dan berkontribusi pada kenaikan permukaan air laut.
Data dari 14 stake pengukur di Puncak Sudirman menunjukkan bahwa aktivitas manusia adalah penyebab utama pencairan es yang begitu cepat. Hilangnya 28 meter es dalam satu dekade adalah bukti nyata dari dampak perubahan iklim. Kita tidak bisa terus mengabaikan masalah ini. Tindakan nyata untuk mengurangi emisi gas rumah kaca harus segera dilakukan.
Aktivitas manusia yang melakukan pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi secara masif telah menyebabkan pemanasan global, yang sayangnya korporasi besar dan kebijakan pemerintah turut berkontribusi pada krisis iklim ini.
Adanya aktivitas pertambangan Freeport Indonesia yang berada di wilayah yang sama dengan salju abadi semakin memperparah terhadap dampak krisis iklim di Asia Tenggara, terutama Indonesia.
Aktivitas ekstraktif seperti pertambangan dan perkebunan sawit di Papua telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah, penggusuran masyarakat adat, dan memperparah krisis iklim. Ini karena adanya, UU PMA yang disahkan pada era Soeharto menjadi landasan hukum bagi aktivitas ini.
Hutan Papua sendiri memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem global. Namun, deforestasi yang terus terjadi mengancam fungsi hutan sebagai penyerap karbon dan mempercepat krisis iklim.
Aktivitas pertambangan yang masif di Indonesia berkontribusi pada krisis iklim. Contohnya, pencairan salju tropis adalah salah satu dampaknya. Greenpeace pun mendorong agar pemerintah dan perusahaan untuk melakukan transisi energi dan restorasi lingkungan.
Karena sudah sangat mendesak, yang dibutuhkan adalah upaya konkret dan terukur dari negara untuk menangani krisis iklim ini. (Mita)








