Suara Kita News. Presiden Prabowo Subianto mengumumkan Meutya Hafid sebagai Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia pada 20 Oktober lalu. Sebagai mantan jurnalis dan Ketua Komisi I DPR, pengalaman Meutya mencakup bidang komunikasi, pertahanan, luar negeri, dan intelijen.
Meutya menghabiskan masa kecilnya di Soppeng. Sebuah daerah di Sulawesi Selatan yang dikenal dengan penduduk Bugis yang rajin dan alam yang menenangkan. Pengalaman ini membentuk pandangan dan sikap Meutya dalam kehidupannya.
Memulai karier sebagai jurnalis TV, Meutya dikenal karena liputannya di wilayah konflik, termasuk Darurat Militer di Aceh, Pemilu di Irak, dan konflik di Palestina. Ketika meliput Pemilu Irak pada 2005, ia dan kameraman Budiyanto sempat disandera selama tujuh hari, pengalaman yang ia tulis dalam buku “168 Jam dalam Sandera.”
Pengabdiannya di dunia jurnalistik membuatnya menerima Elizabeth O’Neill Journalism Award dan Kartu Pers Nomor Satu, sebuah penghargaan bagi jurnalis berintegritas. Meutya kemudian bergabung dengan Partai Golkar pada 2008, dan terpilih sebagai anggota DPR pada 2010, memulai kiprahnya di bidang keuangan dan perbankan sebelum pindah ke Komisi I yang membawahi urusan luar negeri dan pertahanan.
Sebagai anggota Komisi I, Meutya sempat mengunjungi Gaza untuk menyampaikan bantuan dan bertemu para pemimpin Palestina. Selama karier politiknya, ia menggagas sejumlah peraturan penting seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Ia juga menginisiasi program sertifikasi wartawan demi meningkatkan profesionalisme di bidang media.
Lulusan S1 Manufacturing Engineering dari Universitas New South Wales dan S2 Ilmu Politik dari Universitas Indonesia ini telah berkiprah sebagai Ketua Komisi I DPR RI, di mana ia berhasil menyelesaikan 13 undang-undang dalam masa jabatannya. Kini Meutya Hafid memulai perjalanan baru sebagai Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia 2024.
(spectre)








