Tragedi Cigudeg 1948: Menguak Kembali Lembaran Hitam Gugurnya Prada Samlawi

suara Kita News. Com, BOGOR — Lembaran sejarah revolusi fisik Indonesia di tahun 1948 menyimpan banyak fragmen kelam yang luput dari sorotan arus utama sejarah nasional. Di balik megahnya narasi kemerdekaan, terdapat kisah-kisah pengorbanan sunyi yang sarat darah dan air mata. Salah satunya adalah tragedi kemanusiaan yang menimpa Prada Samlawi, seorang prajurit Republik asal Rumpin, Kabupaten Bogor, yang gugur di tangan militer kolonial Belanda dalam detik-detik penuh kebrutalan.

​Lahir sebagai putra asli Rumpin, Kabupaten Bogor, Prada Samlawi terpanggil untuk mengangkat senjata demi mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia pasca-Proklamasi 1945. Di tengah kancah pertempuran gerilya yang keras dan penuh tekanan, ia dikenal bukan hanya karena keberaniannya di medan laga, melainkan juga keteguhan imannya.

​Bagi Samlawi, deru peluru dan ancaman kematian tidak pernah menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban agamanya. Konsistensi dalam beribadah inilah yang kemudian mengantarkannya pada akhir hayat yang heroik sekaligus tragis.

​Peristiwa berdarah tersebut bermula pada suatu hari di tahun 1948, ketika kawasan Cigudeg, Bogor, berubah menjadi medan pertempuran sengit antara pasukan Republik dan tentara NICA Belanda.

​Berdasarkan catatan sejarah lokal serta penuturan turun-temurun masyarakat setempat, Prada Samlawi tengah menunaikan kewajiban Salat Zuhur di tengah situasi pertempuran yang genting. Namun, nasib berkata lain; posisi persembunyiannya terendus oleh patroli musuh. Tentara kolonial mengepung lokasi tersebut tepat ketika ia baru saja merampungkan ibadahnya.

​Alih-alih diperlakukan sebagai tawanan perang yang dilindungi hukum internasional, Prada Samlawi justru menjadi sasaran tindakan biadab di luar batas kemanusiaan. Berdasarkan penuturan lisan yang hidup di masyarakat Rumpin, tubuh sang prajurit diikat dan diseret menggunakan kendaraan militer Belanda menyusuri jalanan Cigudeg.

​Puncak kebrutalan terjadi ketika tentara kolonial membakar tubuhnya yang sudah tak berdaya. Di tengah siksaan tersebut, kumandang takbir disebut-sebut menjadi kalimat terakhir yang diucapkannya sebelum mengembuskan napas terakhir sebagai martir bangsa. Aksi teror keji ini sengaja dipertontonkan oleh kolonial untuk mematahkan mental pejuang Bogor Barat, namun yang terjadi justru sebaliknya: kobaran semangat perlawanan rakyat semakin tersulut.

​Meski namanya sempat tenggelam dari catatan sejarah nasional, pengorbanan Prada Samlawi tetap bersemayam di lubuk hati masyarakat Bogor. Guna mengenang jasa serta kesyahidannya, pemerintah daerah mengabadikan namanya menjadi nama jalan utama di wilayah Kecamatan Rumpin, yakni Jalan Prada Samlawi.

​Selain itu, makam sang pahlawan yang awalnya berada di Kampung Sentuk kini telah dipindahkan ke tempat peristirahatan yang lebih layak sebagai bentuk penghormatan negara atas dedikasinya pada revolusi fisik. Kisah Prada Samlawi kini tidak lagi sekadar cerita bisu, melainkan warisan moral tentang arti kesetiaan ganda: kepada tanah air dan kepada Sang Khaliq.

​Sumber Referensi:

  • ​Wikipedia Bahasa Indonesia (Profil Samlawi)
  • ​Radar Bogor (Kisah Pejuang Asal Rumpin yang Terlupakan)
  • ​Tribun News (Mengenal Sosok Prada Samlawi)
  • ​Bogor-Kita (Pemuda Rumpin Terbitkan Buku Perjuangan Prada Samlawi)
  • Artikel Terkait

    Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

    Suara Kita News, Karawang – Gerakan atau forum Gelo Commando 2026 secara resmi menyuarakan aspirasi rakyat Indonesia dengan mengusung 8 Poin Aspirasi Rakyat. Berbagai tuntutan ini mencakup isu kesejahteraan sosial,…

    Lanjutkan Membaca

    // // //
    Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

    Suara Kita News.com, Pilkades Desa Bangle, Kecamatan Majalaya, tengah menjadi sorotan hangat. Di tengah panggung pertarungan empat kandidat kuat, atmosfer pemilihan kali ini terasa jauh berbeda. Warga tidak lagi sekadar…

    Lanjutkan Membaca

    // // //

    Rekomendasi

    Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

    • October 12, 2026
    Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

    Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

    • October 10, 2026
    Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

    Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

    • October 9, 2026
    Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

    Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

    • October 8, 2026
    Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

    Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

    • October 8, 2026
    Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

    Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

    • October 8, 2026
    Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri