Suara Kita News. Com, MEDAN — Di balik lembaran sejarah kelam Gerakan 30 September (G30S) 1965, tersimpan sebuah kisah cinta yang syahdu sekaligus memilukan. Kisah itu melibatkan perwira muda cemerlang, Letda Czi. Pierre Tendean, dan seorang gadis berdarah Yogyakarta, Rukmini. Sebuah jalinan kasih yang merajut mimpi masa depan, namun harus kandas di ujung bayonet sejarah.
Benih Cinta di Ujung Asrama Medan
Kisah bermula ketika Pierre, seorang pemuda yang awalnya enggan, akhirnya luluh pada ajakan berkenalan dengan Rukmini, seorang siswi SMA yang dikenal taat beragama. Dari perkenalan yang bersahaja itu, benih-benih cinta pun tumbuh.
Pierre kerap menyambangi kediaman Rukmini di Jalan Sekop 4B, Medan, yang terletak tak jauh dari asrama militer tempatnya bertugas. Kesamaan hobi, khususnya kegemaran berolahraga, semakin mendekatkan hati keduanya. Pierre jatuh hati pada sosok Rukmini yang memegang prinsip tegas namun memiliki kelembutan di hatinya.
Ujian Perbedaan dan Jalan Panjang Restu
Hubungan mereka tidak berjalan tanpa hambatan. Dinas militer yang menuntut Pierre berpindah-pindah tugas di berbagai daerah menjadi ujian jarak tersendiri. Namun, batu sandungan terbesar datang dari perbedaan keyakinan.
Rukmini, seorang Muslimah, mengajukan syarat agar Pierre berpindah keyakinan jika hubungan mereka ingin dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Setelah melalui pergulatan batin dan restu awal dari orang tua Pierre yang beragama Kristen—yang sempat menuai jalan terjal—Pierre akhirnya bersedia meninggalkan keyakinannya demi menyatukan cinta mereka.
Pertemuan Terakhir di Yogyakarta
Pada tahun 1965, titik terang tampak mulai benderang. Kedua keluarga besar melangsungkan pertemuan penting di Yogyakarta untuk meresmikan rencana pernikahan yang dijadwalkan pada Desember 1965.
Nahas, takdir berkata lain. Pertemuan di Yogyakarta tersebut justru menjadi detik-detik perjumpaan terakhir bagi Pierre dan Rukmini.
Tragedi 1 Oktober dan Babak Akhir
Tanggal 1 Oktober 1965 mengubah segalanya. Di tengah kecamuk peristiwa G30S PKI, Pierre Tendean diculik, disiksa, dan gugur sebagai pahlawan revolusi dalam tugas pengabdiannya kepada negara.
Gugurnya Pierre meninggalkan luka yang amat mendalam bagi Rukmini. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun bagi gadis Yogyakarta itu untuk memulihkan hatinya dari kehilangan yang begitu besar. Hingga akhirnya, pada tahun 1972, Rukmini melangkah lembaran baru dengan menerima pinangan seorang karyawan bank, menutup rapat kisah cinta abadi yang terenggut oleh kejamnya roda sejarah.






