Houthi, Suarakitanews – Di tengah ketegangan memuncak akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran, ancaman keamanan maritim terbaru muncul dari sisi lain Semenanjung Arab. Kelompok pemberontak Houthi di Yaman telah mengumumkan “embargo maritim” terhadap sekutu Amerika Serikat dan Arab Saudi di Selat Bab al-Mandab, sebuah jalur vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia.
Langkah ini berpotensi memicu gangguan serius pada rantai pasok global, terutama ketika dunia sudah bergulat dengan krisis energi akibat blokade di Teluk Persia.
Eskalasi Konflik: Dari Selat Hormuz ke Laut Merah
Situasi geopolitik di Timur Tengah semakin memanas. Setelah Iran menutup Selat Hormuz—jalur yang dilalui 20 persen kapal pengangkut minyak dunia—fokus perhatian kini beralih ke selatan. Houthi, yang didukung oleh Teheran dan menguasai Yaman Utara, menyatakan bahwa embargo tersebut merupakan pembalasan atas blokade Arab Saudi terhadap pelabuhan dan bandara di wilayah mereka.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, menegaskan sikap tegas kelompoknya pada Senin, 20 Juli 2026. Sebagai tanggapan, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam tuduhan tersebut dan berjanji akan mengambil semua langkah diperlukan untuk melindungi kepentingan nasionalnya sesuai hukum internasional.
Mengapa Selat Bab al-Mandab Sangat Krusial?
Untuk memahami besarnya dampak ancaman ini, kita perlu melihat data strategis selat tersebut. Selat Bab al-Mandab memiliki panjang 115 km dan lebar 36 km, menjadi pintu gerbang wajib bagi kapal-kapal yang ingin mengakses Terusan Suez.
Berikut adalah fakta kunci mengenai pentingnya selat ini:
- Volume Perdagangan: Sekitar 12 persen kapal pengangkut minyak dunia dan 8 persen pengiriman gas alam cair (LNG) global melintasi selat ini.
- Arus Minyak: Setiap hari, sekitar lima juta barel minyak dari Timur Tengah dan Asia menuju Barat melewati perairan ini.
- Alternatif Strategis: Sejak Selat Hormuz ditutup, Arab Saudi semakin mengandalkan Bab al-Mandab sebagai titik transit minyak dari Pelabuhan Yanbu.
Karena jika selat ini tertutup, dampaknya bisa serupa dengan insiden kandasnya kapal Ever Given di Terusan Suez pada 2021, yang menyebabkan kemacetan parah dan lonjakan biaya logistik global.
Kemampuan Militer Houthi: Lebih dari Sekadar Ancaman Simbolis
Pertanyaan besar yang muncul adalah: Dapatkah Houthi benar-benar menutup selat ini?
Menurut Fareal al-Muslimi, pakar Timur Tengah dari Chatham House, Houthi memiliki kemampuan militer yang nyata untuk menyebabkan gangguan signifikan.
“Houthi memiliki ranjau dan telah mengembangkan kemampuan drone maritim mereka. Strategi Iran adalah membuat sekutu regional AS ‘berdarah’ dan menyeret semua pihak ke dalam konflik,” ujar Muslimi.
Dampak Ekonomi: Harga Minyak dan Rantai Pasok di Bawah Tekanan
Gangguan di Laut Merah datang di saat yang paling tidak tepat. Analis Mohammed Albasha dari Basha Report menekankan bahwa ketidakpastian adalah musuh utama pasar.
Jika Houthi mengubah ancaman menjadi tindakan langsung, kita mungkin akan menyaksikan:
- Lonjakan Biaya Asuransi: Premi asuransi kapal untuk rute Laut Merah akan meningkat drastis.
- Pengalihan Rute: Perusahaan pelayaran mungkin memilih rute alternatif yang lebih panjang dan mahal, mengelilingi Afrika.
- Inflasi Global: Keterlambatan pengiriman barang konsumen dan komoditas pertanian akan mendorong kenaikan harga di seluruh dunia.
Kesimpulan: Menanti Langkah Selanjutnya
Dengan Iran mendesak eskalasi dan Arab Saudi bersiap mempertahankan kepentingannya, Selat Bab al-Mandab kembali menjadi titik panas geopolitik. Satu hal yang pasti: stabilitas pelayaran global sedang berada di ujung tanduk.
Penulis: Mita Putri








