Suara Kita News. Com – MULYASARI — Menyambut Hari Ulang Kemerdekaan Republik Indonesia, setiap daerah tentu punya cara sendiri untuk mempercantiknya. Namun, pemandangan berbeda dan penuh makna tersaji di Kantor Desa Mulyasari. Menjelang perayaan 17 Agustus ini, kantor desa tampak berbenah total, dicat ulang agar terlihat semakin rapi, bersih, dan asri.
Di balik renovasi tersebut, ada satu hal yang langsung mencuri perhatian siapa saja yang datang: sebuah lukisan mural berukuran besar di area halaman parkir.
Mural ini bukan sekadar hiasan dinding biasa. Lukisan tersebut menampilkan lanskap megah Gunung Wayang, lengkap dengan tulisan “King Desa” yang berdiri tegas. Namun, pesan paling mendalam terpampang jelas lewat kalimat Sunda buhun berbunyi:
“Ulah kasilih ku kunti”
(Jangan sampai budaya kita tergantikan atau tersingkirkan oleh budaya asing/lain).
Pesan filosofis ini seolah menjadi pengingat visual yang kuat bagi setiap warga yang datang ke kantor desa agar senantiasa menjaga dan melestarikan akar budaya lokal di tengah arus zaman yang kian modern.
Usut punya usut, karya seni sarat makna ini ternyata bukan lahir tanpa arah. Sang pelukis mural mengungkapkan bahwa konsep dan pembuatan lukisan tersebut dibuat berdasarkan gagasan serta masukan langsung dari Kepala Desa Mulyasari, H. Margono, S.H.
Inisiatif ini membuktikan bahwa Kantor Desa Mulyasari tidak hanya sekadar bertransformasi secara fisik lewat pengecatan dan kerapian, tetapi juga menghadirkan ruang edukasi kultural yang dekat dengan masyarakat.
Dengan semangat kemerdekaan tahun ini, Mulyasari tidak hanya merayakan hari jadi bangsa, tetapi juga merawat identitas agar tradisi luhur tetap hidup di bumi pertiwi.
penulis : Yerrydewa






