Suara Kita News. Com – Di bawah kepemimpinan Dedi Mulyadi (KDM), Jawa Barat mulai melirik strategi berbeda dalam implementasi Program Makan Bergizi (MBG). Alih-alih bergantung pada mekanisme katering massal yang berisiko pada penurunan kualitas rasa dan kesegaran, KDM menawarkan gagasan pemberdayaan
keluarga yang berbasis pada kekuatan domestik.
Kemandirian di Balik Piring Gagasan ini berfokus pada pemberian subsidi langsung sebesar Rp15.000 per anak kepada orang tua.
Angka ini diproyeksikan sebagai modal bagi orang tua untuk mengelola dapur sendiri. Menurut KDM, pendekatan ini memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan sistem terpusat.
Orang tua dapat berbelanja langsung di pasar tradisional atau memanfaatkan hasil kebun setempat, menjamin bahan masakan yang segar dan minim bahan pengawet.
Standar gizi tetap terjaga, namun cita rasa disesuaikan dengan selera anak, yang meningkatkan nafsu makan dan efisiensi konsumsi.
Dana bantuan langsung terserap oleh pedagang kecil di lingkungan
sekolah atau desa, menciptakan efek pengganda ekonomi yang nyata.
Pendekatan KDM bukan sekadar soal memberi uang, melainkan mempercayakan
kedaulatan gizi kepada keluarga sebagai unit terkecil masyarakat yang paling memahami kebutuhan nutrisi anak mereka.
Mengawasi Standar Gizi dengan Sistem Lokal
Kekhawatiran mengenai kontrol kualitas gizi dijawab KDM dengan sistem pengawasan berbasis komunitas. Peran kader PKK dan Posyandu akan dioptimalkan sebagai pendamping yang memastikan
menu yang dimasak memenuhi kaidah gizi seimbang. Melalui edukasi berkelanjutan, orang tua diarahkan untuk menyajikan komposisi protein, karbohidrat, dan serat yang tepat.
Dengan memadukan dukungan finansial yang tepat sasaran dan pengawasan organik di tingkat desa, model yang diusung KDM ini berpotensi menjadi jawaban bagi tantangan stunting di Jawa Barat.
Ia mengubah perspektif bahwa gizi berkualitas tidak harus mahal atau berasal dari industri, melainkan dari manajemen dapur rumah yang cerdas dan penuh perhatian.
Penulis : Yerrydewa






