Suarakitanews – Euforia lolos ke Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi momen yang membahagiakan bagi jutaan pendukung sepak bola di seluruh dunia. Namun, bagi sebagian suporter, impian menyaksikan langsung tim nasional mereka justru terhambat oleh sulitnya memperoleh visa Amerika Serikat.
Setidaknya lebih dari seperempat negara peserta Piala Dunia 2026 menghadapi berbagai kendala, mulai dari tingkat penolakan visa yang tinggi, proses administrasi yang rumit, hingga kebijakan pembatasan perjalanan yang berlaku di Amerika Serikat.
Suporter Irak Kehabisan Harapan
Salah satu kisah datang dari Abdullah Adnan, pendukung tim nasional Irak yang telah membeli tiket pertandingan negaranya melawan Norwegia dan Prancis.
Baginya, hadir langsung di stadion merupakan impian yang telah lama dinantikan.
“Pergi ke stadion, bersorak bersama ribuan pendukung, dan melihat tim nasional saya bermain adalah pengalaman yang tidak tergantikan,” ungkapnya.
Namun, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah membuat layanan konsuler Amerika Serikat di Irak ditangguhkan. Akibatnya, Adnan terpaksa pergi ke Yordania untuk mencoba mengajukan visa.
Sayangnya, permohonannya tidak dapat diproses karena ia bukan warga negara Yordania. Upaya tersebut bahkan membuatnya mengeluarkan biaya sekitar US$1.800 tanpa hasil.
Empat Negara Peserta Terkena Pembatasan
Selain Irak, kebijakan visa Amerika Serikat juga berdampak terhadap sejumlah negara lain.
Pemerintahan Presiden Donald Trump menerapkan pembatasan maupun larangan visa yang memengaruhi warga dari Haiti, Iran, Senegal, dan Pantai Gading.
Akibatnya, banyak pendukung dari negara-negara tersebut tidak dapat mengajukan visa kunjungan yang direkomendasikan bagi penonton Piala Dunia.
Julien Kouadio Adonis, perwakilan kelompok pendukung Pantai Gading, menilai kebijakan tersebut menciptakan ketidakadilan.
Menurutnya, negara yang menjadi tuan rumah Piala Dunia seharusnya mampu memberikan akses yang setara bagi seluruh pendukung tim peserta.
Biaya Mahal Belum Menjamin Visa Disetujui
Berbeda dengan warga dari 42 negara yang memperoleh fasilitas bebas visa melalui sistem ESTA, sebagian besar negara berkembang harus melalui proses yang jauh lebih panjang.
Pemohon wajib membayar biaya visa sebesar US$185, menjalani wawancara, menyerahkan berbagai dokumen pendukung, serta membuktikan kemampuan finansial maupun niat untuk kembali ke negara asal.
Meski demikian, seluruh proses tersebut tetap tidak menjamin visa akan disetujui.
FIFA Pass Percepat Proses, Bukan Jaminan Lolos
Sebagai solusi, FIFA memperkenalkan FIFA Pass yang memungkinkan pemegang tiket memperoleh prioritas jadwal wawancara visa.
Akan tetapi, pengacara imigrasi asal Boston, Celine Atallah, menegaskan bahwa fasilitas tersebut hanya mempercepat antrean administrasi.
Persetujuan visa tetap sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah Amerika Serikat.
“Sistem visa menjadi gerbang tak terlihat menuju Piala Dunia,” ujarnya.
Tingkat Penolakan Visa Masih Tinggi
Data Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menunjukkan bahwa warga dari 11 negara peserta Piala Dunia memiliki tingkat penolakan visa lebih dari 40 persen.
Angka tersebut berada di atas rata-rata penolakan visa kunjungan bisnis dan wisata yang mencapai sekitar 34 persen.
Kondisi ini membuat banyak pendukung ragu membeli tiket pertandingan karena khawatir visa mereka akhirnya ditolak.
Yordania Juga Mengalami Kendala
Masalah serupa dialami pendukung tim nasional Yordania.
Ketua asosiasi suporter Yordania, Abu Kass, mengaku membawa lebih dari 40 dokumen saat menghadiri wawancara visa di Amman.
Namun, permohonannya tetap ditolak tanpa penjelasan resmi.
Menurutnya, situasi tersebut membuat banyak pendukung merasa Piala Dunia kali ini sulit diakses oleh seluruh pecinta sepak bola.
Pemerintah AS Tegaskan Prioritaskan Keamanan
Sementara itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menegaskan bahwa negaranya siap menyambut pengunjung dari seluruh dunia selama Piala Dunia 2026 berlangsung.
Meski demikian, setiap permohonan visa tetap akan melalui proses pemeriksaan keamanan secara ketat sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Pemerintah AS juga menyatakan bahwa sebagian besar penggemar internasional diperkirakan tidak memerlukan FIFA Pass karena berasal dari Kanada maupun negara-negara yang telah memperoleh fasilitas bebas visa.
Berbeda dengan Piala Dunia Sebelumnya
Sejumlah penyelenggara Piala Dunia sebelumnya menerapkan sistem yang lebih sederhana bagi suporter.
Qatar memperkenalkan kartu Hayya sebagai dokumen masuk selama Piala Dunia 2022.
Sementara itu, Rusia menggunakan sistem Fan ID pada edisi 2018 sehingga pemegang tiket dapat memasuki negara tersebut tanpa mengurus visa konvensional.
Brasil pada 2014 dan Afrika Selatan pada 2010 juga menyediakan kategori visa khusus untuk mempermudah kedatangan para pendukung sepak bola dari seluruh dunia.
Meski Piala Dunia 2026 diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sebagian besar pertandingan, termasuk laga final, akan berlangsung di Amerika Serikat. Oleh karena itu, kebijakan visa Negeri Paman Sam menjadi faktor penting yang menentukan apakah jutaan pendukung dapat hadir langsung di stadion atau hanya menyaksikan turnamen dari rumah.
Penulis: Mita Putri








