Lebanon, Suarakitanews – Sebuah rekaman video menggemparkan dunia: sejumlah tentara Israel bergerak menembus reruntuhan benteng abad pertengahan di puncak bukit, lalu dengan lantang mengibarkan bendera mereka di lokasi tersebut. Tempat itu bukan sembarang lokasi — itulah Beaufort Castle, benteng bersejarah di Lebanon Selatan yang telah menjadi saksi bisu ribuan tahun konflik manusia.
Perebutan kembali Beaufort Castle oleh Israel pada 31 Mei sontak memicu reaksi internasional. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebutnya sebagai “tahap yang menentukan dan pergeseran kebijakan yang signifikan.”
Namun, apa sebenarnya yang membuat benteng berusia ratusan tahun ini begitu diperebutkan hingga hari ini?
Akar Sejarah: Dari Era Fenisia hingga Perang Salib
Untuk memahami nilai strategis Beaufort Castle, kita perlu menelusuri sejarahnya yang panjang. Beberapa sejarawan meyakini bahwa puncak bukit ini pertama kali dibentengi sejak era Fenisia atau Romawi. Namun demikian, struktur benteng yang berdiri hingga saat ini berasal dari abad ke-12, era kejayaan Perang Salib.
Selama periode tersebut — yakni dari akhir abad ke-11 hingga abad ke-13 — pasukan Eropa membangun jaringan benteng di puncak-puncak bukit di kawasan Levant. Tujuannya adalah untuk mengamankan rute vital antara wilayah pesisir dan kota-kota pedalaman.
Di antara semua benteng itu, Beaufort menjadi salah satu yang paling strategis dan paling banyak diperebutkan.
Nama “Beaufort” sendiri berasal dari bahasa Prancis Kuno yang berarti “benteng indah.” Sementara itu, dalam bahasa Arab, tempat ini dikenal sebagai Qal’at al-Shaqif atau Shaqif Arnoun, yang bermakna “Kastel Batu Tinggi” — sebuah nama yang mencerminkan posisinya yang menjulang di atas lembah.
Salahuddin dan Perebutan Beaufort pada 1190
Salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan Beaufort Castle terjadi sekitar tahun 1190, ketika benteng ini direbut oleh Salahuddin al-Ayyubi — pemimpin Muslim legendaris yang berhasil mengalahkan pasukan Salib dan membentuk ulang peta kekuasaan di kawasan Timur Tengah.
Perebutan Beaufort oleh Salahuddin bukan sekadar kemenangan militer biasa. Lebih dari itu, hal itu menandai berakhirnya dominasi Salib atas salah satu pos pengawasan terpenting di Levant.
Tidak hanya itu, desain Beaufort Castle sendiri mencerminkan pertemuan dua peradaban. Arsitekturnya menggabungkan gaya bangunan Perang Salib dengan elemen Islam Timur, menjadikannya simbol hidup dari persilangan budaya dan kekuasaan yang pernah berlangsung di kawasan ini.
Sejak tahun 2024, Beaufort Castle resmi masuk dalam daftar situs yang dilindungi oleh Konvensi Den Haag untuk Perlindungan Properti Budaya dalam Konflik Bersenjata — sebuah pengakuan internasional atas nilai warisan budayanya yang tak ternilai.
Dari Basis Gerilyawan hingga Pos Militer Israel
Nilai strategis Beaufort Castle tidak pudar seiring berjalannya waktu. Sebaliknya, pada paruh kedua abad ke-20, benteng ini kembali menjadi titik panas konflik.
Menurut Prof. Asher Kaufman dari Universitas Notre Dame, “Pada 1970-an hingga Juni 1982, tempat itu digunakan sebagai basis gerilyawan Palestina untuk melawan Israel,” berkat posisinya yang mampu memantau wilayah yang sangat luas.
Sebagai akibatnya, ketika Israel melancarkan invasi ke Lebanon pada 1982, Beaufort Castle menjadi lokasi beberapa pertempuran paling sengit dalam konflik tersebut. Pertempuran Shaqif — nama yang diberikan untuk perebutan benteng ini — hingga kini masih dikenang dalam sejarah militer Israel maupun Lebanon.
Setelah akhirnya merebut Beaufort pada 6 Juni 1982, Israel menjadikannya pos pengamatan yang dibentengi di dalam “zona keamanan” Lebanon Selatan — hingga akhirnya Israel menarik mundur pasukannya pada tahun 2000.
Mengapa Beaufort Castle Begitu Bernilai Secara Strategis?
Berdiri di atas bukit berbatu dekat kota Arnoun, di Kegubernuran Nabatieh, Beaufort Castle menawarkan jangkauan pandang yang luar biasa ke tiga wilayah sekaligus:
- Wilayah Israel Utara
- Daratan Lebanon Selatan
- Lembah Litani
Oleh karena itu, siapa pun yang menguasai benteng ini secara otomatis memiliki kendali visual atas jalur-jalur strategis menuju selatan — keunggulan yang sama pentingnya di era medieval maupun era modern.
Lebih jauh, arsitektur Beaufort Castle dirancang untuk ketahanan jangka panjang. Lorong batu yang sempit, ruangan yang dibentengi, tangki air, dan sumur memungkinkan para petempur di dalamnya untuk bertahan dalam pengepungan berkepanjangan — sebuah keunggulan defensif yang tetap relevan hingga hari ini.
Pukulan Simbolis bagi Hizbullah
Di sisi lain, perebutan kembali Beaufort Castle oleh Israel memiliki dampak psikologis dan simbolis yang jauh melampaui nilai taktisnya semata.
Menurut Dr. Lina Khatib dari Program Kajian Timur Tengah dan Afrika Utara, Chatham House, “Perebutan Beaufort Castle menunjukkan bahwa Hizbullah tidak mampu mencegah Israel untuk memperluas pendudukannya atas wilayah Lebanon.”
Dengan demikian, jatuhnya benteng ini bukan hanya kekalahan militer bagi Hizbullah, melainkan juga kekalahan moral di hadapan para pendukung dan sekutunya.
Reaksi Internasional dan Kecaman atas Pendudukan
Sementara itu, langkah Israel mendapat kecaman luas dari komunitas internasional. Inggris, Prancis, dan Jerman mengkritik eskalasi militer terbaru Israel di Lebanon. Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, secara tegas menuduh Israel melakukan “hukuman kolektif” terhadap rakyat Lebanon.
Pada 1 Juni, juru bicara Uni Eropa, Anouar El Anouni, menyerukan:
“Kami menyerukan kepada Israel untuk menghentikan eskalasi militernya di Lebanon dan untuk menghormati kedaulatan serta integritas teritorial Lebanon.”
Tidak hanya itu, pejabat lokal di Arnoun pun mengecam keras serangan terhadap situs bersejarah tersebut. Pasalnya, Beaufort Castle — yang telah dipugar dan dibuka kembali untuk pengunjung dalam beberapa tahun terakhir — secara luas dipandang sebagai bagian dari identitas sejarah dan budaya Lebanon yang tak terpisahkan.
Sejarah yang Berulang di Tanah yang Sama
Pada akhirnya, kisah Beaufort Castle adalah kisah tentang sejarah yang terus berulang di tanah yang sama. Dari Salahuddin yang merebutnya dari pasukan Salib pada abad ke-12, gerilyawan Palestina yang menjadikannya basis pada 1970-an, Israel yang merebutnya pada 1982, hingga kini — delapan abad setelah Perang Salib — benteng itu kembali menjadi medan pertempuran.
Selama berabad-abad, Beaufort Castle telah berganti tangan berkali-kali. Namun satu hal tetap tidak berubah: siapa pun yang menguasai puncak bukit itu, menguasai pandangan atas tanah di bawahnya — dan dalam konteks konflik yang terus membara di Timur Tengah, itu berarti segalanya.
Penulis: Mita Putri








