Suarakitanews — Pergeseran besar tengah terjadi di industri otomotif global. Produsen mobil dari Amerika Serikat, Eropa, hingga Jepang kini secara terbuka mengakui bahwa mereka kesulitan — bahkan nyaris tidak punya peluang — untuk bersaing dengan produsen mobil asal China yang terus melaju pesat.
Pernyataan mengejutkan datang langsung dari pucuk pimpinan industri ini. CEO Honda, Toshihiro Mibe, secara blak-blakan mengungkapkan, “Kami tidak punya peluang melawan ini,” setelah mengunjungi pabrik otomotif ultra-modern di Shanghai. Sementara itu, CEO Ford, Jim Farley, memperingatkan bahwa produsen mobil Barat kini sedang “berjuang untuk bertahan hidup” di tengah gempuran ekspansi global perusahaan otomotif China.
Pertanyaannya: bagaimana China bisa mencapai dominasi sebesar ini, dan apa dampaknya bagi industri otomotif dunia?
Bukan Sekadar Soal Mobil Listrik
Banyak pihak menyederhanakan fenomena ini sebagai sekadar persaingan di segmen kendaraan listrik (EV). Namun, Bill Russo, analis otomotif berbasis di Shanghai, mengingatkan bahwa gambaran sesungguhnya jauh lebih besar.
“Kesalahan terbesar yang dilakukan oleh negara-negara maju adalah menganggap transisi ini hanya seputar mobil listrik. Ini sebenarnya adalah perebutan tentang siapa yang akan memimpin generasi berikutnya dalam teknologi mobilitas,” tegasnya.
Faktanya, keunggulan China mencakup seluruh ekosistem: teknologi baterai, rantai pasok terintegrasi, pengembangan perangkat lunak, hingga kecepatan manufaktur. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan biaya produksi SUV listrik di China setidaknya 30 persen lebih murah dibandingkan negara-negara maju — keunggulan yang sangat sulit ditandingi.
Ketika Raksasa Teknologi Masuk ke Industri Mobil
Salah satu faktor pembeda terbesar adalah masuknya perusahaan teknologi kelas dunia ke industri otomotif. Xiaomi, Huawei, dan Alibaba kini tidak hanya memproduksi ponsel atau perangkat digital — mereka juga memproduksi kendaraan listrik canggih.
Di pabrik Xiaomi di pinggiran Beijing, satu unit mobil baru keluar dari lini produksi setiap 76 detik. Padahal, Xiaomi baru meluncurkan kendaraan listrik pertamanya pada 2024 — dan kini sudah masuk jajaran merek terlaris di China.
Strategi Xiaomi pun unik: mengintegrasikan mobil dengan ponsel, aplikasi, dan ekosistem smart-home dalam satu sistem tunggal. Hasilnya, mobil bukan lagi sekadar alat transportasi, melainkan sebuah “ponsel pintar beroda” yang terhubung sepenuhnya dengan gaya hidup digital penggunanya.
Selain itu, BYD telah mengembangkan teknologi pengisian daya ultra-cepat yang mampu menambah jarak tempuh hingga 400 km hanya dalam lima menit — waktu yang nyaris sama dengan mengisi bahan bakar di SPBU konvensional.
Dampak Nyata: Pasar Global Bergeser
Dampak persaingan ini sudah terasa di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Penjualan mobil merek China di Indonesia mencapai 113.258 unit sepanjang 2025, meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Kendaraan listrik besutan BYD, Wuling, dan Chery memimpin angka penjualan tersebut — menunjukkan penerimaan konsumen Indonesia yang semakin terbuka terhadap merek-merek baru asal China.
Secara global, China mengekspor sekitar tujuh juta unit mobil per tahun, dan hampir separuhnya merupakan kendaraan listrik. Di pasar domestik China sendiri, pangsa pasar merek asing anjlok drastis dari 64 persen pada 2020 menjadi hanya 32 persen pada 2026 — sebuah kemerosotan yang memukul pendapatan General Motors, BMW, Volkswagen, dan merek-merek besar lainnya.
Bahkan di segmen mobil mewah pun China mulai unggul. Sedan premium Maextro S800 besutan Huawei kini menjadi mobil terlaris di China untuk kategori harga di atas US$100.000, melampaui gabungan penjualan Porsche Panamera dan BMW Seri 7.
Produsen Asing Terpaksa Mengubah Strategi
Menghadapi tekanan ini, produsen mobil asing mulai mengambil langkah-langkah strategis yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Volkswagen menggelontorkan investasi senilai US$700 juta untuk mendapatkan akses ke arsitektur perangkat lunak dan sistem kemudi otonom milik XPeng — sebuah pengakuan bahwa mereka tidak mampu mengembangkan teknologi serupa dengan cukup cepat di negara asalnya.
Stellantis menandatangani kesepakatan senilai US$1,16 miliar dengan Dongfeng untuk memproduksi model Peugeot dan Jeep, sekaligus membawa merek EV mewah Voyah ke pasar Eropa.
Toyota, Hyundai, Ford, dan Nissan pun terpantau memperluas operasi riset mereka di China — bukan lagi sekadar menjadikan China sebagai tempat perakitan, melainkan sebagai pusat pengembangan teknologi mereka.
Tarif Tidak Cukup untuk Membendung Laju China
Uni Eropa telah memberlakukan tarif hingga 45 persen untuk kendaraan listrik asal China, sementara Amerika Serikat menerapkan tarif di atas 100 persen. Kebijakan ini memang terbukti efektif menutup pintu masuk merek China ke pasar AS.
Namun demikian, konsultan industri James Pearson memperingatkan bahwa proteksionisme bukan solusi jangka panjang.
“Jika Anda menutup akses mereka ke satu pasar, mereka akan menemukan pasar lain,” ujarnya.
Terbukti, meskipun menghadapi tarif tinggi di Eropa, model Jaecoo 7 dari Chery berhasil menjadi salah satu mobil baru terlaris di Inggris hanya dalam 14 bulan setelah peluncurannya.
Masa Depan Industri Otomotif: Kolaborasi atau Tertinggal?
Bill Russo menegaskan bahwa pusat gravitasi industri otomotif global kini telah resmi bergeser ke China. Bagi produsen yang ingin bertahan, hanya ada satu pilihan realistis: berkolaborasi, bukan berkonfrontasi.
“Perusahaan-perusahaan yang bersedia berkolaborasi dengan China memiliki peluang untuk bertahan. Sedangkan mereka yang mencoba menghentikan kebangkitan China justru akan semakin tertinggal,” tegasnya.
Lebih jauh lagi, CEO XPeng, He Xiaopeng, bahkan sudah membidik cakrawala yang lebih luas: robot humanoid dan mobil terbang. “Dalam dekade berikutnya, semua perusahaan mobil juga akan merangkap sebagai perusahaan robotika,” ungkapnya.
Apakah produsen mobil Jepang, Eropa, dan Amerika masih punya waktu untuk mengejar ketertinggalan? Atau dominasi China di industri otomotif global sudah terlalu jauh untuk disusul?
Penulis: Mita Putri








