Suarakitanews – Pernahkah kamu tiba-tiba teringat seseorang di tengah malam, lalu merasa sesak di dada bukan karena kamu ingin kembali, tetapi karena kamu tidak tahu bagaimana cara berhenti merindukan mereka?
Kalau iya, kamu tidak sendirian.
Merindukan seseorang yang tidak baik untukmu adalah salah satu pengalaman emosional yang paling membingungkan sekaligus melelahkan.
Di satu sisi, hatimu menarikmu ke arahnya. Di sisi lain, pikiranmu mengingatkan bahwa kembali bukan jawaban yang tepat.
Lalu, apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Antara Rindu dan Kesadaran: Kamu Tidak Sedang Lemah
Banyak orang menyalahkan diri sendiri karena masih merindukan seseorang yang sudah menyakiti mereka. Mereka bertanya-tanya, “Kenapa aku masih kepikiran dia, padahal aku tahu dia tidak baik untukku?”
Jawabannya sederhana namun dalam: rasa rindu bukan tanda kelemahan. Itu tanda bahwa hubungan itu nyata.
Ketika kamu mencintai seseorang, otakmu secara alami membentuk pola keterikatan emosional. Pola ini tidak langsung hilang hanya karena hubungan berakhir bahkan ketika hubungan itu menyakitkan sekalipun.
Justru karena itulah proses melepaskan terasa begitu berat.
Apa yang Sebenarnya Kamu Rindukan?
Ini adalah pertanyaan penting yang jarang orang tanyakan pada diri sendiri.
Seringkali, yang kamu rindukan bukan hanya orangnya, melainkan:
- Perasaan dipahami — saat dia menjadi orang pertama yang kamu hubungi ketika ada kabar baik maupun buruk.
- Rasa kedekatan — keintiman emosional yang sulit dibangun ulang dengan orang lain.
- Versi dirimu saat itu dirimu yang merasa dipilih, dilihat, dan “hidup”
- Dengan kata lain, rindu itu bukan selalu tentang orangnya secara utuh.
- Melainkan tentang kekosongan yang ditinggalkan setelah hubungan itu berakhir.
- Memahami perbedaan ini adalah langkah pertama yang krusial dalam proses penyembuhan.
Psikologi di Balik Rasa Rindu: Mengenal Ambivalence
Dalam dunia psikologi, kondisi yang kamu rasakan ini dikenal sebagai ambivalence — yaitu ketika cinta dan luka hidup berdampingan secara bersamaan di dalam dirimu (Starr, 2024).
Ambivalence bukan pertanda kamu tidak tegas atau tidak tahu apa yang kamu mau. Sebaliknya, ini adalah respons emosional yang sangat manusiawi ketika seseorang yang pernah memberimu kebahagiaan juga menjadi sumber rasa sakitmu.
Singkatnya, perasaanmu tidak hitam-putih dan itu wajar.
Perasaan manusia memang tidak bekerja seperti tombol yang bisa langsung dimatikan. Bahkan ketika kamu sudah tahu bahwa kembali bukan pilihan yang sehat, bagian dari hatimu tetap bisa merindukan kehangatannya.
Kenapa Sulit Berhenti Meski Sudah Tahu Itu Tidak Sehat?
Ada beberapa alasan psikologis mengapa rasa rindu ini begitu kuat bertahan, antara lain:
- Keterikatan Emosional yang Terbentuk dari Kebiasaan
Otak manusia menyukai pola dan rutinitas. Selama bersama seseorang, kamu membangun kebiasaan emosional mulai dari cara berbagi cerita hingga cara mencari kenyamanan. Ketika kebiasaan itu tiba-tiba hilang, otakmu akan mencarinya kembali secara otomatis.
- Memori Selektif terhadap Momen Indah
Pikiran manusia cenderung lebih mudah mengingat momen-momen yang menyenangkan. Akibatnya, kamu mungkin lebih sering teringat tawa bersama dibandingkan luka yang pernah dia torehkan.
- Rasa Rindu sebagai Respons Berduka
Perpisahan termasuk dari hubungan yang tidak sehat adalah sebuah kehilangan. Dan kehilangan membutuhkan proses berduka. Rasa rindu adalah bagian alami dari proses tersebut, bukan tanda bahwa kamu harus kembali.
Rindu Bukan Berarti Kamu Harus Kembali
Ini adalah hal terpenting yang perlu kamu ingat. Merindukan seseorang tidak berarti kamu perlu kembali padanya.
Rindu adalah emosi. Keputusan untuk kembali adalah pilihan. Keduanya adalah hal yang berbeda dan kamu berhak untuk memisahkan keduanya.
Kamu boleh merasakan rasa rindu itu sepenuhnya tanpa harus bertindak berdasarkan perasaan tersebut. Kamu boleh mengakui bahwa dia pernah berarti bagimu, sambil tetap memilih untuk tidak kembali ke dalam sesuatu yang sudah menyakitimu.
Karena pada akhirnya, cinta saja tidak cukup untuk membuatmu bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Dan kedekatan tidak selalu berarti kecocokan.
Lalu, Bagaimana Cara Melewatinya?
Tidak ada formula ajaib untuk menghilangkan rasa rindu dalam semalam. Namun, ada beberapa hal yang bisa membantu prosesmu:
- Validasi perasaanmu sendiri
Berhenti menghakimi diri karena masih merindukan. Rasakan, akui, lalu biarkan mengalir. - Bedakan antara rindu dan kebutuhan
Tanyakan pada dirimu: “Apakah aku rindu dia, atau aku rindu perasaan tidak sendirian?” Jawabannya bisa membantu kamu menemukan akar dari rasa rindu tersebut. - Berikan ruang pada dirimu untuk berduka
Proses melepaskan seseorang butuh waktu. Tidak ada batas waktu yang tepat untuk berhenti merindukan — yang penting adalah kamu terus melangkah maju, meski perlahan. - Bangun kembali hubungan dengan dirimu sendiri
Seringkali, kita merindukan seseorang karena kita kehilangan bagian dari diri kita yang terasa “hidup” saat bersama mereka. Temukan kembali hal-hal yang membuatmu merasa hidup tanpa harus bergantung pada orang lain.
Kamu Sudah Memilih Dirimu Sendiri
Fakta bahwa kamu tidak kembali meskipun rindu itu sendiri sudah merupakan bentuk keberanian.
Kamu sudah membuktikan bahwa kamu mampu mencintai dengan dalam, sekaligus tetap memilih dirimu sendiri.
Rasa rindu itu mungkin tidak akan hilang sepenuhnya dalam waktu dekat. Namun, seiring berjalannya waktu, ia akan menjadi lebih tenang seperti ombak yang masih datang, tapi tidak lagi mampu menjatuhkanmu.
Dan ingat: cinta yang tepat sering kali dimulai dari bagaimana kamu belajar mencintai dirimu sendiri terlebih dahulu.
Kamu sedang berjuang dengan perasaan yang serupa? Bagikan ceritamu di kolom komentar. Kamu tidak harus melewatinya sendiri.
Penulis: Mita Putri








