Suara Kita News.com. MEDAN – Kasus penganiayaan brutal yang melibatkan tersangka PS Cs kini memasuki babak baru yang penuh drama. Jesaya Tarigan, Ketua Umum DPP Pemuda Barisan Muda Karo (PBK) yang sebelumnya bertindak sebagai penjamin penangguhan penahanan PS, secara mengejutkan menyatakan kekecewaannya yang mendalam atas sikap keluarga tersangka.
Jesaya menilai, PS dan keluarganya tidak hanya gagal menjaga kepercayaan, tetapi juga secara aktif memproduksi informasi hoaks serta melakukan framing berita yang bertujuan mengaburkan fakta penganiayaan brutal tersebut.
“Saya, Jesaya Tarigan, yang menjaminkan diri agar penangguhan penahanan PS dikabulkan, merasa sangat malu dan menyesalkan perbuatan mereka. Harusnya, PS dan keluarganya menghormati kesepakatan dengan Polrestabes Medan, bukan malah memproduksi informasi menyesatkan ke publik,” tegas Jesaya kepada awak media di Medan, Senin (11/05/2026).
Kekecewaan Jesaya sejalan dengan fakta-fakta yang terungkap dalam sidang Praperadilan (Prapid) di Pengadilan Negeri Medan. Dalam persidangan tersebut, tabir gelap di balik kasus ini mulai tersingkap:
Terungkap di persidangan bahwa pihak keluarga PS sempat meminta uang damai senilai Rp250 juta kepada keluarga pelaku pencurian ponsel yang menjadi pemicu awal konflik.
Saksi Putri Mutiara Hati, kasir di toko ponsel milik PS, mengaku sempat diancam untuk mengganti seluruh kerugian jika tidak berhasil menemukan pelaku pencurian.
Saksi Yoga Alfiansyah membeberkan fakta krusial bahwa salah satu pelaku, Persadaan Putra Sembiring, diduga sempat mengaku sebagai anggota kepolisian saat melakukan penangkapan ilegal. “Kami dari pihak kepolisian mau menangkap pelaku pencurian,” ujar Yoga menirukan ucapan pelaku yang saat itu membawa map untuk meyakinkan warga.
Yoga juga menjelaskan secara rinci kekerasan fisik yang dialami korban (Ditto). Menurutnya, penganiayaan dilakukan secara bergantian oleh para pelaku.
“Begitu pintu dibuka, William langsung memukul wajah Ditto. Saat didudukkan, Putra menendang, dan Leo menampar korban,” ungkap Yoga di hadapan majelis hakim.
Langkah Jesaya Tarigan yang bersuara secara terbuka ini menandakan adanya keretakan besar antara tersangka dengan pihak-pihak yang sebelumnya mendukung mereka. Jesaya menegaskan bahwa dukungan yang diberikan PBK awalnya didasari rasa kemanusiaan dan keadilan, namun tindakan keluarga tersangka yang terus menyebarkan hoaks dianggap telah mencoreng marwah organisasi.
Hingga berita ini diturunkan, persidangan Prapid di PN Medan masih terus berlanjut guna menguji keabsahan prosedur hukum yang dilakukan, di tengah sorotan tajam publik terhadap perilaku arogan para pelaku.
Penulis Tim






