Junta Myanmar Paksa Kaum Muda Masuk Wajib Militer: Diculik, Disiksa, hingga “Hidup Seperti di Neraka”

Suarakitanews, Myanmar – Junta militer Myanmar kembali menuai kecaman internasional setelah laporan terbaru mengungkap praktik pemaksaan wajib militer terhadap kaum muda. Alih-alih sukarela, banyak pemuda justru diculik, diintimidasi, bahkan disiksa untuk bergabung ke medan perang.

Fenomena ini tidak hanya memperlihatkan krisis kemanusiaan yang semakin dalam, tetapi juga menandai hilangnya satu generasi muda di negara tersebut.

Diculik di Tengah Aktivitas Sehari-hari

Kisah Maung Maung menjadi salah satu bukti nyata praktik kejam ini. Saat sedang membeli makanan di kawasan Klenteng Sule, Yangon, ia tiba-tiba diculik oleh kelompok paramiliter.

Lebih lanjut, ia dipaksa mengaku bahwa dirinya “bersedia” mengikuti wajib militer. Ancaman kematian membuatnya tidak punya pilihan.

“Kalau saya menolak, mereka bilang akan membunuh saya,” ujarnya.

Tak hanya itu, kasus serupa juga dialami Aung Htun. Ia ditangkap di rumahnya, dituduh sebagai anggota kelompok perlawanan, lalu disiksa secara brutal.

Dari Janji Manis hingga Paksaan Brutal

Seiring meningkatnya tekanan militer akibat kekalahan di berbagai wilayah, junta Myanmar mulai mengubah strategi perekrutan.

Awalnya, mereka menawarkan gaji untuk menarik minat. Namun demikian, metode ini berkembang menjadi sistem undian hingga penculikan paksa.

Bahkan, laporan dari Myanmar Defence and Security Institute (MDSI) menyebut jumlah perekrutan melonjak drastis—dari sekitar 12.000 orang per tahun menjadi lebih dari 110.000 dalam dua tahun terakhir.

Dengan kata lain, praktik ini kini dilakukan secara sistematis dan terorganisir.

Kehidupan di Kamp: Lebih Buruk dari Penjara

Setelah direkrut, para pemuda dibawa ke kamp militer dengan kondisi yang jauh dari layak.

Sebagai contoh, Maung Maung menggambarkan tempat penahanannya seperti “kandang hewan”. Ruangan sempit, ventilasi tertutup, dan perlakuan kasar menjadi keseharian.

Selain itu, mereka dipaksa duduk seharian, tidur berdesakan, serta menerima kekerasan fisik jika melanggar aturan sekecil apa pun.

“Rasanya seperti hidup di neraka,” katanya.

Sementara itu, Aung Htun mengalami penyiksaan selama pelatihan militer. Setiap kesalahan kecil berujung pukulan, hinaan, bahkan perlakuan tidak manusiawi lainnya.

Dikirim ke Garis Depan Tanpa Pilihan

Setelah pelatihan, para wajib militer langsung dikirim ke zona konflik.

Sebagian ditempatkan sebagai pasukan tempur, sementara yang lain dipaksa menjadi pekerja logistik dengan beban kerja ekstrem.

Sebagai ilustrasi, Aung Htun harus memikul karung beras hingga 50 kilogram ke daerah pegunungan. Ia menggambarkan dirinya “seperti buruh kasar yang diperlakukan seperti hewan.”

Di sisi lain, Win Zaw (20) dipaksa terlibat dalam pertempuran aktif selama berbulan-bulan, meski bertentangan dengan hati nuraninya.

“Saya hanya ingin hidup damai,” ungkapnya.

Eksodus Besar-besaran Kaum Muda

Akibat tekanan ini, banyak anak muda memilih melarikan diri ke luar negeri.
Menurut laporan UNDP, sekitar 300.000 hingga 500.000 pemuda Myanmar telah meninggalkan negara tersebut hingga 2025.

Lebih jauh lagi, empat dari sepuluh pemuda yang masih bertahan di dalam negeri juga mengaku ingin pergi jika memiliki kesempatan.

Situasi ini, pada akhirnya, tidak hanya menghancurkan masa depan individu, tetapi juga merusak struktur ekonomi dan sosial Myanmar secara keseluruhan.

Tekanan Internasional Dibutuhkan

Di tengah kondisi yang semakin memburuk, para aktivis HAM mendesak komunitas internasional untuk bertindak.

Salah satu langkah yang dinilai penting adalah mendokumentasikan pelanggaran HAM secara sistematis. Selain itu, negara-negara ASEAN juga didorong untuk tidak mengakui legitimasi pemerintahan militer Myanmar.

Dengan demikian, tekanan diplomatik diharapkan dapat memaksa junta menghentikan praktik wajib militer paksa yang dinilai sebagai bentuk perbudakan modern.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Krisis Migran Ceuta dan Melilla: Pengerahan Militer Spanyol di Tengah Sengketa Kedaulatan Berabad-Abad

Suarakitanews – Tegangan diplomatik kembali memanas di Selat Gibraltar setelah Pemerintah Spanyol mengerahkan pasukan militer tambahan ke Ceuta, sebuah wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara. Langkah drastis ini diambil sebagai…

Lanjutkan Membaca

// // //
Detik-Detik Mencekam Gempa Venezuela: Kisah Perempuan Berjam-jam Mencari Kabar Keluarganya di Caracas

Venezuela, Suarakitanews — Sebuah pesan suara singkat di WhatsApp menjadi awal dari berjam-jam kecemasan yang tak terlupakan. “Baru saja terjadi gempa yang sangat hebat, saat ini masih terasa gunangannya,” demikian…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri