Suarakitanews, Teheran – Bagaimana mungkin sebuah negara yang terkunci oleh embargo selama puluhan tahun justru mampu menjadi salah satu kekuatan drone militer dunia?
Pertanyaan ini semakin relevan ketika drone Iran, seperti Shahed-136, muncul dalam berbagai konflik global. Namun, di balik kecanggihan teknologi tersebut, ada cerita panjang yang dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: sebuah bengkel kecil di universitas.
Awal Mula: Krisis yang Memaksa Inovasi
Setelah Revolusi Iran 1979, negara itu kehilangan hampir seluruh dukungan militer dari Barat. Akibatnya, banyak alat utama pertahanan—termasuk pesawat tempur canggih—tidak lagi bisa digunakan.
Selain itu, ketika perang melawan Irak pecah pada 1980, Iran berada dalam kondisi yang sangat sulit. Mereka tidak hanya kekurangan teknologi, tetapi juga tidak bisa membelinya akibat embargo internasional.
Namun demikian, tekanan ini justru memicu lahirnya inovasi.
Dari Ide Sederhana Menjadi Teknologi Nyata
Pada awal 1980-an, para mahasiswa dan insinyur di Universitas Isfahan mulai mengembangkan konsep sederhana: pesawat kecil tanpa awak yang bisa dikendalikan dari jarak jauh.
Awalnya, ide ini dianggap tidak serius. Bahkan, purwarupa pertama dibuat dari bahan seadanya—plastik, papan, hingga kantung infus sebagai tangki bahan bakar.
Meski begitu, mereka tidak menyerah.
Setelah melalui berbagai kegagalan, akhirnya pada 1983, drone tersebut berhasil terbang di atas wilayah musuh dan kembali membawa foto intelijen yang sangat berharga.
Perkembangan Drone Tempur Iran
Keberhasilan ini menjadi titik balik. Program drone kemudian diambil alih oleh militer Iran dan dikembangkan lebih serius.
Selanjutnya, Iran tidak hanya menggunakan drone untuk pengintaian, tetapi juga mulai mengembangkannya menjadi senjata tempur.
Pada 1988, Iran berhasil menciptakan drone bersenjata pertama mereka, yang dikenal sebagai Muhajir. Ini menjadikan Iran sebagai salah satu pelopor dalam penggunaan drone militer di dunia.
Strategi Cerdas di Balik Keterbatasan
Berbeda dengan negara maju yang mengandalkan teknologi mahal, Iran mengembangkan strategi unik: mengandalkan jumlah dan biaya murah.
Sebagai contoh, satu drone mungkin tidak seakurat rudal canggih. Namun, jika digunakan dalam jumlah besar, drone dapat membanjiri sistem pertahanan musuh.
Akibatnya, lawan dipaksa mengeluarkan biaya jauh lebih besar untuk mencegat serangan tersebut.
Embargo Bukan Halangan
Meski berada di bawah sanksi internasional, Iran tetap mampu memperoleh komponen teknologi melalui jaringan global.
Di sisi lain, mereka juga mengadaptasi teknologi sipil untuk kebutuhan militer.
Hal ini membuat industri drone Iran terus berkembang, bahkan hingga mampu bersaing di tingkat global.
Dampak Global dan Kontroversi
Dalam beberapa tahun terakhir, drone Iran menjadi sorotan dunia.
Misalnya, kemunculan drone Shahed-136 dalam konflik Ukraina memicu kekhawatiran internasional. Selain itu, serangan terhadap fasilitas minyak Saudi juga menunjukkan efektivitas teknologi ini.
Dari Keterbatasan Menjadi Kekuatan
Kisah perkembangan drone Iran membuktikan satu hal penting: keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya.
Sebaliknya, dengan strategi yang tepat, konsistensi, dan inovasi, sebuah negara dapat mengubah kelemahan menjadi kekuatan.
Dari bengkel kecil di Universitas Isfahan, kini Iran telah menjelma menjadi salah satu pemain utama dalam industri drone militer dunia.
Penulis: Mita Putri








