Suarakitanews – Sudah berusaha, tapi tetap dibandingkan. Sudah capek, tapi masih dibilang kurang.
Lama-lama, bukan hanya lelah secara fisik, tapi melainkan juga mulai meragukan diri sendiri.
Namun di sisi lain, penting untuk dipahami bahwa orang tua juga sedang belajar. Bagi mereka, menjadi orang tua adalah pengalaman pertama, sehingga cara mereka menunjukkan perhatian bisa saja berbeda dari yang kita harapkan.
Lalu, jika kamu berada di posisi ini, apa yang sebaiknya dilakukan?
Orang Tua Adalah Dunia Pertama Anak
Sejak lahir, orang tua menjadi dunia pertama bagi seorang anak. Dari merekalah anak belajar mengenal diri, memahami nilai, hingga membentuk cara berpikir.
Bahkan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orang tua memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan pola pikir anak. Oleh karena itu, respon kecil dari orang tua bisa memiliki dampak besar bagi perkembangan emosional anak.
“Kok, Cuma Segini?” yang Terasa Lebih Dalam
Di satu sisi, ketika anak membawa hasil yang memuaskan, pujian mudah diberikan. Namun sebaliknya, saat hasil dianggap biasa saja, muncul pertanyaan sederhana: “Kok cuma segini?”
Meskipun terdengar ringan, kalimat ini sering kali terasa seperti alarm di kepala anak. Akibatnya, anak mulai mengaitkan nilai dirinya dengan pencapaian.
Tanpa Sadar, Anak Jadi Ahli Membaca Kekecewaan
Seiring waktu, anak belajar membaca ekspresi wajah, nada suara, hingga perubahan kecil dari orang tua. Bahkan, tanpa disadari, mereka menjadi “ahli” dalam mendeteksi kekecewaan.
Akibatnya, anak tidak lagi mengejar mimpi yang diinginkan. Sebaliknya, mereka mulai mengejar rasa aman—agar tidak mengecewakan.
Sebagai contoh, dalam penelitian Alya et al (2025), ditemukan adanya ketegangan antara keinginan pribadi dan harapan keluarga. Mayoritas partisipan mengaku bahwa mimpi mereka sangat dipengaruhi oleh ekspektasi orang tua.
Dampak Psikologis yang Tidak Terlihat
Lebih jauh lagi, tekanan ini dapat berdampak pada kesehatan mental. Di antaranya:
- Ketakutan berlebihan terhadap kegagalan
- Kecemasan akademik
- Rendahnya self-worth
- Hingga munculnya gejala depresi
Dari luar, prestasi mungkin terlihat membanggakan. Namun di dalam, tekanan terus tumbuh tanpa disadari.
Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?
Meskipun situasi ini tidak mudah, ada beberapa langkah yang bisa dicoba:
Pertama, mulai kenali bahwa nilai dirimu tidak hanya ditentukan oleh pencapaian.
Kedua, coba komunikasikan perasaanmu secara perlahan kepada orang tua.
Ketiga, beri ruang untuk diri sendiri agar tetap bisa mengenali apa yang benar-benar kamu inginkan.
Selain itu, penting juga untuk memahami bahwa ekspektasi orang tua sering kali berasal dari rasa sayang—meskipun cara penyampaiannya tidak selalu tepat.
Semua Anak Hanya Ingin Didengar
Sesungguhnya, setiap anak hanya ingin mendengar satu kalimat sederhana:
“Tidak apa-apa. Apa pun yang terjadi, kami tetap sayang dan bangga.”
Karena pada akhirnya, kita tidak ingin menjadi sempurna.
Kita hanya ingin merasa aman untuk menjadi manusia.
Bukan hanya dibanggakan saat berhasil, tetapi juga diterima bahkan sebelum berhasil.
Penulis: Mita Putri








