Suarakitanews, Teheran – Sebulan setelah serangan Amerika Serikat dan Israel mengguncang Iran, kehidupan warga sipil berubah drastis. Ketakutan, trauma, dan krisis ekonomi kini menjadi bagian dari keseharian yang tak terelakkan.
Sebelumnya, perang terasa jauh bagi Setareh, seorang perempuan muda yang tinggal di Teheran. Namun, semuanya berubah dalam sekejap ketika suara ledakan mengguncang kantornya.
“Saya rasa itu bom,” teriaknya kepada rekan kerja.
Tak lama kemudian, kepanikan melanda. Orang-orang berlarian, menjerit, dan mencari perlindungan. Bahkan, dalam hitungan jam, situasi berubah menjadi kekacauan total. Akibatnya, perusahaan tempat Setareh bekerja menghentikan operasional dan merumahkan seluruh karyawan.
Ketakutan yang Tak Pernah Usai
Sejak saat itu, Setareh mengaku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan, selama beberapa hari berturut-turut, ia hanya bisa terbaring tanpa benar-benar terlelap.
“Sejujurnya, saya belum tidur selama beberapa malam,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, termasuk mengonsumsi obat kuat. Namun demikian, kecemasan yang ia rasakan justru semakin memburuk.
Tak hanya soal keselamatan, Setareh juga dihantui ketidakpastian masa depan. Ia kehilangan pekerjaan dan kehabisan uang, sementara harga kebutuhan pokok melonjak tajam.
Krisis Ekonomi Semakin Mencekik
Di sisi lain, kondisi ekonomi Iran memang sudah berada dalam tekanan sebelum konflik terjadi. Harga pangan bahkan dilaporkan meningkat hingga 60% sepanjang 2025.
Akibatnya, jutaan warga kini kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
“Kami bahkan tidak mampu membeli makanan pokok,” kata Setareh.
Selain itu, sanksi ekonomi yang telah berlangsung bertahun-tahun membuat masyarakat tidak memiliki tabungan untuk bertahan dalam situasi darurat seperti sekarang.
Ancaman Kesehatan dan Minimnya Obat-obatan
Sementara itu, situasi di sektor kesehatan juga semakin mengkhawatirkan.
Tina, seorang perawat di luar Teheran, mengungkapkan bahwa kekurangan obat mulai terasa.
“Meskipun belum parah, tanda-tandanya sudah ada,” ujarnya.
Lebih jauh, ia memperingatkan bahwa jika infrastruktur kesehatan menjadi sasaran serangan, dampaknya akan sangat fatal. Oleh karena itu, keberlanjutan distribusi obat menjadi hal yang krusial.
Tidak hanya itu, Tina juga menyaksikan langsung dampak tragis dari serangan udara. Banyak korban datang ke rumah sakit dalam kondisi mengenaskan, bahkan tidak dapat dikenali.
Trauma dan Luka yang Mendalam
Selain krisis fisik dan ekonomi, trauma psikologis menjadi luka yang tak terlihat. Behnam, seorang demonstran, masih bersembunyi setelah tertembak saat aksi protes.
Menurutnya, pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
“Setelah melihat betapa mudahnya hidup terancam, semuanya terasa berbeda,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyoroti represi pemerintah yang terus meningkat.
Penangkapan, penyiksaan, hingga dugaan eksekusi menjadi ancaman nyata bagi warga yang bersuara.
Ketakutan Akan Masa Depan
Di tengah situasi ini, banyak warga Iran mulai kehilangan harapan. Namun, sebagian lainnya masih menyimpan keinginan akan perubahan.
Setareh, misalnya, percaya bahwa konflik ini bisa memicu gelombang protes yang lebih besar.
“Saya tidak tahu bagaimana pemerintah akan menangani pengangguran besar-besaran ini,” ujarnya.
Pada akhirnya, ketidakpastian menjadi hal yang paling menakutkan bagi masyarakat. Perang mungkin akan berakhir, tetapi dampaknya diperkirakan akan berlangsung jauh lebih lama.
Sebulan telah berlalu sejak serangan dimulai. Namun bagi warga Iran, mimpi buruk itu belum juga berakhir. Di tengah reruntuhan harapan, mereka hanya bisa bertahan dan menunggu hari di mana kehidupan kembali normal.








