Suarakitanews – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Israel secara terbuka mengakui keterlibatannya dalam operasi yang menewaskan Kepala Intelijen Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Majid Khademi.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bersama Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Mereka menyebut kematian Khademi sebagai “pukulan berat” bagi struktur intelijen Iran.
Iran Umumkan Lebih Dulu, Ada Apa?
Menariknya, berbeda dari biasanya, Iran justru lebih dulu mengumumkan kematian Khademi sebelum klaim resmi dari Israel muncul. Hal ini memicu spekulasi bahwa situasi di internal Iran tengah berada dalam tekanan besar.
Selain itu, Khademi diketahui baru menjabat selama empat hari, menggantikan Mohammad Kazemi yang juga tewas dalam serangan sebelumnya pada Juni 2025.
Dengan demikian, dalam waktu singkat, dua kepala intelijen IRGC berturut-turut tewas akibat operasi yang diduga dilakukan Israel.
Siapa Majid Khademi?
Majid Khademi dikenal sebagai sosok penting dalam dunia intelijen Iran. Ia juga kerap disebut dengan nama lain, Majid Hosseini.
Sebelumnya, ia pernah menduduki berbagai posisi strategis, di antaranya:
- Wakil Direktur Organisasi Perlindungan Intelijen IRGC
- Kepala unit perlindungan intelijen Kementerian Pertahanan Iran (2018)
- Kandidat kuat penerus Hossein Taeb
Selain itu, Khademi dikenal vokal dalam menuding keterlibatan intelijen asing dalam berbagai gejolak di Iran.
Bahkan, ia pernah menuduh lebih dari 10 badan intelijen global, termasuk Unit 8200 milik Israel, terlibat dalam gelombang protes besar di Iran.
Konflik Iran–Israel–AS Semakin Membara
Di sisi lain, konflik semakin memanas ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran.
Ia menuntut agar Iran membuka jalur strategis Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima distribusi minyak dunia.
Namun demikian, Iran menolak tekanan tersebut dan bahkan mengejek pernyataan Trump sebagai “tidak berdaya dan tidak seimbang.”
Sebagai respons, Iran juga meningkatkan serangan ke berbagai target di kawasan Teluk, sementara Israel terus melancarkan serangan ke infrastruktur strategis Iran.
Dampak Global: Ancaman Krisis Energi
Lebih lanjut, gangguan di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak global. Situasi ini berpotensi memperburuk inflasi di berbagai negara.
Tidak hanya itu, serangan balasan Iran ke wilayah Israel dan sekutu AS juga memperluas eskalasi konflik yang kini melibatkan banyak negara di kawasan.
Kesimpulan
Dengan tewasnya Majid Khademi dalam operasi yang diakui Israel, konflik di Timur Tengah kini memasuki fase yang lebih berbahaya.
Sementara itu, tekanan dari Donald Trump dan respons keras Iran menambah kompleksitas situasi yang berpotensi memicu krisis global, terutama di sektor energi.








