Suara Kita News.com KARAWANG – Jarum jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Di ruas Jalan Raya Telukjambe Pangkalan, Desa Karang Mulya, deru mesin kendaraan menciptakan orkestra sibuk yang tak putus-putus. Debu jalanan dan asap knalpot menjadi saksi betapa terburu-burunya warga mengejar waktu sebelum azan Magrib membelah langit Telukjambe Barat, Rabu (11/3/2026).
Namun, sore itu ada yang berbeda. Di tengah arus komuter yang kencang, sekelompok orang memilih “berhenti” demi menggerakkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar perjalanan pulang: kepedulian.
Sebanyak 500 paket takjil tersusun rapi. Di baliknya, para anggota KSM Telukjambe Barat GMBI Karawang berdiri tegak. Mereka tidak sedang melakukan demonstrasi atau orasi politik. Tangan mereka terulur ramah, menyapa para pengendara motor yang kelelahan, sopir angkutan yang mengejar setoran, hingga pejalan kaki yang singgah sejenak.
“Ramadan adalah tentang berbagi,” pesan itu mengalir tanpa perlu banyak kata. Satu per satu paket berpindah tangan, disambut dengan senyum tipis dan anggukan syukur dari para penerima.
Ketua KSM Telukjambe Barat, Bang Tri, tampak mengawasi jalannya aksi dengan tenang. Baginya, angka 500 hanyalah statistik, namun esensi di baliknya adalah harga diri sebuah kemanusiaan.
“Kami ingin menghadirkan pesan sederhana: keberadaan kami bukan hanya sebagai organisasi, tapi sebagai bagian dari napas masyarakat itu sendiri,” ujar Bang Tri di sela kegiatan.
Menurutnya, Ramadan adalah momentum krusial untuk membedah kembali rasa empati yang mungkin tumpul karena rutinitas. “Bahwa kebahagiaan itu justru muncul saat kita memberi, bukan saat menerima,” tambahnya filosofis.
Senada dengan itu, Bang Iqbal selaku Sekretaris KSM Telukjambe Barat, memandang aksi ini sebagai pemantik. Ia percaya bahwa kebaikan memiliki sifat menular—sebuah viralitas positif yang dibutuhkan Karawang saat ini.
“Kami berharap ini menular. Jika hari ini kami bergerak, semoga esok komunitas atau individu lain tergerak melakukan hal serupa. Ramadan adalah waktu terbaik untuk ‘berlomba’ dalam hal ini,” tutur Iqbal dengan optimisme tinggi.
Tak hanya membagikan makanan fisik, kegiatan ini dipungkasi dengan doa bersama. Sebuah ritual spiritual yang diniatkan untuk keselamatan warga Telukjambe Barat agar senantiasa dinaungi keberkahan dan kesejahteraan.
Saat matahari benar-benar tenggelam di cakrawala Karang Mulya, paket-paket itu telah habis. Namun, atmosfer di ruas jalan tersebut terasa berbeda. Ada rasa hangat yang tertinggal—sebuah pengingat bahwa di tengah dunia yang makin individualis dan tergesa-gesa, di tepi jalan Karawang ini, kepedulian terbukti masih sangat hidup.
Kebaikan memang tak perlu megah untuk menjadi berarti. Kadang, ia hanya butuh satu tangan yang mau terjulur dengan tulus di waktu yang tepat.
Penulis : Red






