Suarakitanews – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 7 persen setelah sedikitnya tiga kapal tanker diserang di dekat Selat Hormuz. Insiden ini memperburuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Berdasarkan laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), dua kapal terkena proyektil tidak dikenal yang menyebabkan kebakaran.
Sementara itu, sebuah proyektil lain dilaporkan meledak sangat dekat dengan kapal ketiga. Beruntung, seluruh awak kapal dilaporkan selamat.
Namun demikian, situasi di jalur pelayaran vital tersebut semakin tidak stabil setelah Iran memperingatkan kapal-kapal internasional agar tidak melintasi selat tersebut.
Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting bagi Harga Minyak Dunia?
Sebagai informasi, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz setiap harinya. Oleh karena itu, gangguan sekecil apa pun di wilayah ini dapat langsung memicu lonjakan harga minyak global.
Akibat meningkatnya ancaman keamanan, sedikitnya 150 kapal tanker dilaporkan berlabuh di luar perairan teluk. Bahkan, sejumlah perusahaan pelayaran mulai mengalihkan rute mereka demi menghindari risiko serangan lanjutan.
Harga Minyak Brent dan WTI Melonjak di Perdagangan Asia
Pada perdagangan pagi di Asia, minyak mentah Brent melonjak 7 persen menjadi US$ 78,25 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang diperdagangkan di Amerika Serikat naik 7,3 persen menjadi US$ 71,93 per barel.
Meski demikian, Kepala Riset Energi MST Research, Saul Kavonic, menyatakan bahwa pasar belum sepenuhnya panik. Menurutnya, pasar masih menunggu tanda-tanda normalisasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Akan tetapi, sejumlah analis memperingatkan bahwa harga minyak bisa menembus US$ 100 per barel jika konflik Iran-AS terus berlanjut dalam jangka panjang.
OPEC+ Tingkatkan Produksi, Namun Dinilai Belum Cukup
Sebagai respons terhadap lonjakan harga, kelompok OPEC+ yang terdiri dari negara-negara produsen minyak termasuk Arab Saudi dan Rusia sepakat meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari.
Namun demikian, beberapa pakar energi meragukan langkah tersebut akan cukup untuk menstabilkan harga jika jalur distribusi utama tetap terganggu.
IRGC Klaim Serangan, Konflik Iran-Israel Memicu Krisis Regional
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim tiga kapal tanker berbendera Inggris dan AS terkena rudal dan terbakar. Hingga kini, Inggris dan Amerika Serikat belum memberikan konfirmasi resmi.
Di sisi lain, ketegangan meningkat setelah konflik terbuka antara Iran dan Israel semakin memanas. Serangan udara dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Teluk, termasuk Dubai, Doha, serta beberapa negara lain di kawasan tersebut.
Akibatnya, perusahaan pelayaran besar seperti Maersk memutuskan menghentikan sementara pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez, serta mengalihkan rute kapal melalui Tanjung Harapan.
Dampak Jangka Panjang terhadap Ekonomi Global
Pada akhirnya, besarnya dampak terhadap harga minyak dunia akan sangat bergantung pada durasi konflik dan efektivitas pengamanan jalur pelayaran oleh Amerika Serikat serta sekutunya.
Jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu lama, bukan tidak mungkin harga minyak akan melonjak jauh lebih tinggi. Sebaliknya, jika situasi cepat terkendali, harga berpotensi kembali stabil.
Situasi ini menunjukkan betapa rentannya distribusi energi global terhadap konflik geopolitik di Timur Tengah.
Penulis: Mita Putri








