Suarakitanews – Siapa Ayatollah Ali Khamenei? Kabar wafatnya Ali Khamenei mengguncang Iran dan dunia internasional. Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989, ia menjadi figur paling berpengaruh dalam struktur politik Republik Islam.
Lahir di Mashhad pada 1939, Khamenei berasal dari keluarga religius Syiah.
Sejak usia muda, ia telah mendalami Al-Qur’an dan ilmu agama. Namun demikian, jalannya tidak hanya terbatas pada ranah spiritual. Sejak awal, aktivitasnya lebih banyak bersinggungan dengan gerakan politik anti-monarki.
Peran dalam Revolusi Islam 1979
Dalam momentum Revolusi Islam Iran 1979, Khamenei tampil sebagai orator yang vokal menentang Shah Iran. Ia beberapa kali ditangkap dan disiksa oleh polisi rahasia rezim monarki.
Setelah revolusi berhasil menggulingkan Shah dan membawa Ruhollah Khomeini ke tampuk kekuasaan, Khamenei dipercaya menjadi imam Salat Jumat di Teheran. Setiap pekan, pidatonya disiarkan ke seluruh negeri, memperkuat posisinya dalam lingkaran elite baru Iran.
Selain itu, ia juga mendukung aksi penyanderaan Kedutaan Besar Amerika Serikat pada 1979, yang berlangsung selama 444 hari. Peristiwa ini kemudian menjadi titik awal hubungan tegang Iran dan Amerika Serikat.
Dari Presiden ke Pemimpin Tertinggi Iran
Pada 1981, Khamenei terpilih sebagai Presiden Iran. Delapan tahun kemudian, setelah wafatnya Ayatollah Khomeini, Majelis Ahli memilihnya sebagai Pemimpin Tertinggi.
Sebagai Pemimpin Tertinggi, ia memegang kendali atas militer, peradilan, media negara, dan terutama Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Dengan kewenangan memveto kebijakan dan menentukan kandidat politik, posisinya menjadi pusat kekuasaan tertinggi di Iran.
Awalnya, banyak pihak meragukan kapasitas religiusnya. Namun seiring waktu, ia berhasil membangun jaringan loyalis kuat di berbagai institusi negara.
Konflik Iran-Irak dan Sikap Anti-Barat
Perang Iran-Irak yang berlangsung selama delapan tahun semakin membentuk sikap keras Khamenei terhadap Barat. Invasi yang diperintahkan oleh Saddam Hussein menewaskan ratusan ribu orang.
Lebih lanjut, dukungan bertahap Amerika Serikat kepada Irak memperdalam ketidakpercayaan Iran terhadap Barat. Sejak saat itu, narasi anti-AS dan anti-Israel menjadi bagian utama kebijakan luar negeri Iran.
Program Nuklir Iran dan Ketegangan Global
Isu program nuklir Iran menjadi salah satu warisan paling kontroversial Khamenei. Pada 2003, ia mengeluarkan fatwa yang menyatakan senjata nuklir bertentangan dengan Islam.
Namun demikian, negara-negara Barat tetap mencurigai Iran. Pada 2015, Iran menandatangani kesepakatan nuklir bersama Amerika Serikat dan negara-negara besar lainnya. Akan tetapi, pada era Presiden Donald Trump, Amerika Serikat keluar dari perjanjian tersebut.
Ketegangan meningkat setelah tewasnya komandan IRGC, Qasem Soleimani, dalam serangan Amerika Serikat pada 2020. Sejak itu, hubungan Iran, AS, dan Israel semakin memanas.
Penumpasan Demonstrasi dan Kritik HAM
Sepanjang kepemimpinannya, Khamenei dikenal tegas terhadap oposisi. Demonstrasi mahasiswa 1999, protes pemilu 2009, hingga gelombang unjuk rasa 2019 dan 2022 ditindak keras.
Kasus kematian Mahsa Amini pada 2022 memicu protes besar-besaran.
Laporan berbagai lembaga HAM menyebut ribuan orang tewas dalam gelombang demonstrasi tersebut. Meski demikian, Khamenei menuduh campur tangan asing sebagai pemicu kekacauan.
Isu Suksesi: Peran Mojtaba Khamenei
Seiring bertambahnya usia Khamenei, isu suksesi mencuat. Salah satu nama yang paling sering disebut adalah putranya, Mojtaba Khamenei.
Mojtaba dikenal memiliki pengaruh kuat di lingkaran dalam kekuasaan ayahnya. Ia menempuh pendidikan agama di Qom dan disebut-sebut berperan dalam dinamika politik internal Iran. Meski demikian, belum ada konfirmasi resmi bahwa ia akan menjadi penerus.
Warisan Ayatollah Ali Khamenei
Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei menandai babak baru bagi Iran. Selama lebih dari tiga dekade, ia membentuk arah politik, militer, dan ideologi negara.
Di satu sisi, pendukungnya melihatnya sebagai penjaga revolusi dan simbol perlawanan terhadap Barat. Namun di sisi lain, para kritikus menilai kepemimpinannya identik dengan pembatasan kebebasan dan isolasi internasional.
Kini, dunia menanti bagaimana Republik Islam Iran melangkah ke depan tanpa sosok yang selama ini menjadi pusat kekuasaan tertinggi.
Penulis: Mita Putri








