Suarakitanews – Mengapa Mengelola Emosi Itu Penting?
Sering kali, kita berusaha mengusir perasaan sedih, marah, atau takut. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dilawan. Sebaliknya, emosi adalah sinyal penting yang membantu kita memahami diri sendiri.
Namun demikian, banyak orang memilih distraksi seperti scrolling media sosial atau menekan perasaan dengan kalimat seperti, “Aku harus kuat” atau “Aku nggak boleh baper.” Akibatnya, emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang. Mereka hanya mencari cara lain untuk muncul.
Dampak Menekan Emosi bagi Kesehatan Mental dan Fisik
Ketika emosi terus-menerus ditekan, tubuh akan berbicara. Misalnya, melalui sakit kepala, dada sesak, gangguan tidur, atau overthinking yang tidak kunjung berhenti.
Bahkan, studi jangka panjang dari Harvard & University of Rochester menemukan bahwa kebiasaan menekan emosi berkaitan dengan peningkatan risiko kematian dini hingga 35 persen, dan meningkat sampai 70 persen untuk risiko kematian akibat kanker.
Dengan kata lain, menolak emosi bukan solusi. Sebaliknya, mengenali dan menerima emosi adalah langkah awal menuju kesehatan mental yang lebih stabil.
Emosi Bukan untuk Dilawan, Tapi Dikenali
Bayangkan emosi sebagai tamu yang mengetuk pintu rumah. Jika tidak diizinkan masuk, mereka tidak akan pergi begitu saja.
Justru, mereka bisa “mendobrak” dalam bentuk ledakan amarah, kecemasan berlebih, atau reaksi impulsif.
Sebaliknya, ketika kita memberi ruang, emosi menjadi lebih tenang. Misalnya:
“Aku sedih karena takut ditinggalkan.”
“Aku marah karena merasa tidak dihargai.”
“Aku cemas karena butuh rasa aman.”
Dengan memahami pesan di balik emosi, kita belajar merespons, bukan bereaksi.
Teknik Praktis Mengelola Emosi: Naming It to Taming It
Penelitian dari UCLA menunjukkan bahwa memberi label pada perasaan (affect labeling) dapat membantu menenangkan pusat emosi di otak (amigdala).
Teknik ini dikenal dengan istilah Naming It to Taming It.
Berikut langkah praktisnya:
- Stop – Berhenti Sejenak
Pertama, berhenti ketika dada terasa sesak atau pikiran mulai panas. - Observe – Amati
Selanjutnya, sadari emosi apa yang sedang hadir. - Label – Beri Nama
Kemudian, katakan dalam hati: “Aku sedang merasa sedih.”, “Aku sedang merasa takut.” - Validate – Validasi
Terakhir, beri ruang dan katakan: “Wajar aku merasa seperti ini karena situasinya memang sulit.”
Dengan cara ini, emosi tidak lagi terasa mengancam. Sebaliknya, ia menjadi pesan yang bisa dipahami.
Dari Reaksi ke Respon Bijak
Saat kita tidak lagi dikuasai emosi, cara berkomunikasi pun berubah. Misalnya:
Reaksi reaktif:
“Kamu jahat banget bikin aku nunggu!”
Respon bijak:
“Aku merasa cemas dan sedih saat tidak dikabari, karena aku butuh rasa aman.”
Perbedaannya terletak pada kesadaran. Kita berbicara tentang emosi, bukan sebagai emosi.
Kesimpulan: Menjadi Tuan Rumah bagi Emosi
Menjadi sehat secara mental bukan berarti tidak pernah merasa sedih atau marah. Sebaliknya, kesehatan mental adalah kemampuan untuk mengelola emosi tanpa terhanyut di dalamnya.
Jadi, alih-alih menutup pintu, beranikah kamu menyambut tamu yang datang hari ini?
Karena pada akhirnya, emosi yang diterima akan lebih mudah dipahami. Dan emosi yang dipahami tidak lagi perlu berteriak.
Penulis: Mita Putri








