Suara Kita News.com – KARAWANG – Mengawali dekade pertama Ramadan 1447 H, Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh memilih Pakisjaya sebagai titik nol perjalanannya. Bukan tanpa alasan, kehadiran orang nomor satu di Karawang ini di ujung utara kabupaten tersebut menandai dimulainya rangkaian Tarawih Keliling (Tarling) yang membawa misi lebih dari sekadar ritual ibadah.
Bersama masyarakat Desa Telukjaya, Bupati Aep bersimpuh di atas hamparan karpet Masjid Jami Nurul Huda. Suasana khusyuk menyelimuti pertemuan malam itu, di mana doa-doa melangit bersama harapan warga pesisir.
Kehadiran Bupati Aep tidaklah sendirian. Ia membawa “gerbong” kebijakan lengkap untuk mendengar langsung denyut nadi masyarakat. Tampak hadir Wakil Bupati Maslani, Sekretaris Daerah Asep Aang Rahmatullah, serta jajaran Forkopimda dan perangkat daerah.
Kehadiran jajaran petinggi kabupaten di tengah masyarakat desa ini memberikan sinyal kuat bahwa pelayanan publik tidak hanya berhenti di kantor bupati, melainkan hadir hingga ke pelataran masjid desa.
Bagi Bupati Aep, Tarling 1447 H adalah instrumen strategis untuk menjemput aspirasi masyarakat di sela-sela ibadah.
“Tarling ini bukan sekadar agenda rutin tahunan. Ini adalah ikhtiar kami untuk hadir lebih dekat, mendengar apa yang menjadi keluh kesah warga, serta mempererat silaturahmi dalam hangatnya suasana Ramadan,” ungkap Bupati Aep usai melaksanakan salat Isya berjamaah.
Agenda di Pakisjaya ini hanyalah pembuka. Selama sepuluh hari ke depan, “Maraton Religi” ini akan terus bergerak menyisir berbagai wilayah di Karawang. Bupati dan tim dijadwalkan akan berkeliling untuk berbuka puasa dan tarawih bersama warga, membedah persoalan wilayah sambil memperkuat kebersamaan.
- Mendengar Langsung: Menjadikan masjid sebagai ruang dialog terbuka antara pemimpin dan rakyat.
- Penguatan Kondusivitas: Mengajak warga menjaga ketertiban selama bulan suci.
- Akselerasi Informasi: Menyampaikan program-program pembangunan daerah secara langsung di hadapan jamaah.
Perjalanan dari Pakisjaya ini menjadi simbol bahwa pembangunan Karawang haruslah inklusif, menyentuh hingga ke wilayah-wilayah perbatasan, dimulai dari saf-saf salat yang rapat dan penuh keberkahan.
Penulis : Yerrydewa






