Suarakitanews – Tangerang, Sungai Cisadane tercemar akibat limpasan bahan kimia pestisida pasca kebakaran gudang di kawasan BSD Serpong, Kota Tangerang Selatan. Pencemaran ini bahkan meluas hingga radius 22,5 kilometer, mencakup wilayah Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang.
Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol, dampak pencemaran menyebabkan biota sungai seperti ikan mas, baung, patin, nila, hingga sapu-sapu mati mendadak. Sementara itu, warga melaporkan air sungai berubah warna menjadi putih, berbuih, dan berbau menyengat seperti minyak tanah.
Tidak hanya itu, distribusi air dari Perumda Tirta Benteng Kota Tangerang pun sempat dihentikan sebagai langkah preventif karena air baku Sungai Cisadane terindikasi tercemar limbah kimia berbahaya.
Kronologi Pencemaran Sungai Cisadane
Pencemaran bermula dari kebakaran gudang pestisida milik PT. BS di kawasan pergudangan Taman Tekno BSD, Serpong. Diperkirakan sekitar 20 ton bahan pestisida terbakar, termasuk zat aktif cypermethrin dan profenofos.
Kedua zat ini merupakan insektisida yang umum digunakan untuk membasmi hama pertanian. Namun, ketika terbakar dan terbawa air pemadaman, cairan kimia tersebut mengalir ke Sungai Jeletreng yang bermuara ke Sungai Cisadane.
Akibatnya, dalam waktu singkat, pencemaran menyebar hingga ke hilir. Selain air berubah warna dan berbau, ikan-ikan di beberapa titik ditemukan mengambang dalam kondisi mati.
Mengapa Pencemaran Ini Berbahaya?
Pakar teknik lingkungan menjelaskan bahwa perubahan warna air menjadi putih serta kematian biota air menandakan konsentrasi zat kimia sudah melewati ambang aman.
Lebih lanjut, pestisida memiliki dua sifat utama:
- Larut dalam air (soluble) – mudah terbawa arus sungai.
- Tidak larut dalam air (insoluble) – mengendap di dasar sungai dan terserap sedimen.
Jika residu mengendap di dasar sungai, maka pencemaran bisa berlangsung lama, bahkan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Artinya, meskipun air terlihat kembali normal, zat berbahaya bisa saja masih tersimpan di sedimen.
Selain itu, paparan jangka panjang dalam konsentrasi rendah berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan seperti iritasi kulit, gangguan pernapasan, bahkan risiko kanker jika terakumulasi.
Dampak terhadap Air PDAM dan Warga
Sebagai langkah pengamanan, instalasi pengolahan air dihentikan sementara. Hal ini dilakukan karena instalasi PDAM pada umumnya tidak dirancang untuk mengolah konsentrasi tinggi bahan kimia berbahaya secara mendadak.
Sementara itu, warga mengaku khawatir meskipun hanya menggunakan air PDAM untuk mandi dan mencuci. Kekhawatiran ini wajar, mengingat pestisida dapat terserap melalui kulit atau terhirup melalui uap air.
Bagaimana Cara Memulihkan Sungai Cisadane?
Lantas, adakah solusi untuk memulihkan sungai yang tercemar pestisida?
- Monitoring dan Uji Laboratorium Berkala
Pertama, pemerintah harus memastikan pengujian kualitas air dilakukan secara rutin untuk mengetahui konsentrasi residu kimia. - Penghentian Sementara Pemanfaatan Air
Selanjutnya, masyarakat diimbau tidak menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari sampai dinyatakan aman. - Filtrasi dengan Karbon Aktif
Jika terpaksa digunakan, air sebaiknya disaring menggunakan karbon aktif karena efektif menyerap senyawa kimia organik tertentu. - Rekayasa Ekosistem (Constructed Wetland)
Dalam jangka panjang, pembuatan sistem rawa buatan atau constructed wetland dapat membantu menyerap dan menurunkan kadar polutan secara alami. Metode ini memang membutuhkan waktu, tetapi terbukti membantu pemulihan ekosistem di berbagai negara. - Penegakan Hukum dan Evaluasi Penyimpanan Bahan Kimia
Terakhir, investigasi menyeluruh perlu dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya kelalaian dalam penyimpanan bahan kimia berbahaya.
Transparansi dan Rencana Aksi Sangat Dibutuhkan
Lebih dari sekadar penanganan teknis, masyarakat membutuhkan keterbukaan informasi. Jenis bahan kimia yang bocor, jumlah pasti yang mencemari sungai, serta estimasi waktu pemulihan harus disampaikan secara transparan.
Dengan demikian, warga tidak hanya diliputi kecemasan, tetapi juga memahami langkah-langkah mitigasi yang sedang dilakukan.
Kesimpulan
Kasus pencemaran Sungai Cisadane menjadi pengingat penting bahwa penyimpanan bahan kimia berbahaya memerlukan prosedur mitigasi ketat.
Meskipun air sungai mungkin terlihat kembali normal, residu kimia bisa tetap tersimpan di dasar sungai dan berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, ahli lingkungan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam memulihkan ekosistem Sungai Cisadane serta menjaga keamanan air bagi jutaan warga Tangerang.
Penulis: Mita Taurina
Dilansir dari BBCNewsIndonesia






