Suarakitanews.com — Pernah nggak kamu merasa, setiap mencoba ngobrol dengan orang tua, emosimu langsung naik? Bukannya merasa tenang, justru muncul rasa kesal, jengkel, atau bahkan ingin marah tanpa alasan yang jelas.
Padahal, dalam bayangan ideal, pulang ke rumah adalah tempat pulang paling aman. Bahkan, mungkin kamu membayangkan kehangatan rumah, aroma masakan favorit, dan sambutan penuh cinta ketika membuka pintu.
Namun kenyataannya, tidak semua orang memiliki pengalaman menyenangkan ketika berinteraksi dengan orang tua. Bagi sebagian orang, percakapan sederhana justru terasa melelahkan secara emosional. Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi?
Fenomena Unfinished Business dalam Keluarga
Dalam psikologi, kondisi ini disebut sebagai unfinished business, yaitu luka emosional dari masa lalu yang belum terselesaikan. Trauma yang tidak pernah diproses dapat bertahan dan memengaruhi pola interaksi hingga dewasa.
Menariknya, bukan hanya anak yang mungkin memiliki luka. Orang tua pun bisa membawa trauma dari masa kecilnya sendiri. Trauma tersebut kemudian diwariskan secara tidak sadar dalam pola komunikasi, cara mengekspresikan emosi, maupun cara mendisiplinkan anak.
Sebuah penelitian berjudul “Associations between Trauma Exposure and Irritability within the Family Unit: A Network Approach” menunjukkan bahwa trauma pada orang tua maupun anak berkontribusi pada masalah pengaturan emosi dan rasa mudah tersinggung. Dengan kata lain, emosi yang meledak saat berinteraksi bukanlah tanpa sebab.
Bagaimana Trauma Bisa Diturunkan tanpa Disadari?
Psikologi modern menunjukkan bahwa trauma tidak hanya memengaruhi perilaku, tetapi juga dapat meninggalkan jejak biologis. Jadi, bayi yang lahir bukan hanya “kertas kosong”, melainkan membawa memori emosional dari generasi sebelumnya.
Carl Jung pernah menulis dalam bukunya Memories, Dreams, Reflections: “Sering kali tampaknya ada karma keluarga yang diteruskan dari generasi sebelumnya. Seolah-olah aku harus menyelesaikan sesuatu yang tidak pernah tuntas.”
Inilah yang membuat hubungan keluarga terasa rumit, emosional, dan kadang penuh ketegangan.
Bagaimana Cara Mengatasi Rasa Marah saat Komunikasi dengan Orang Tua?
Berita baiknya: pola ini bisa diubah. Tidak harus sekaligus, tetapi perlahan—dan dimulai dari kesadaran diri. Berikut beberapa langkah yang bisa dicoba:
- Journaling: Kenali Emosi Tanpa Menghakimi
Tulis apa yang kamu rasakan, tanpa sensor. Dengan journaling, kamu memberi ruang aman untuk emosi yang selama ini tertahan. Ini adalah langkah awal berdamai dengan diri sendiri. - Bangun Keberanian untuk Menghadapi Akar Masalah
Trauma yang dibiarkan akan tumbuh menjadi pola kehidupan. Karena itu, penting untuk perlahan berani menghadapi luka lama dan menerima kenyataan bahwa kamu berhak sembuh. - Mulai dengan Komunikasi Kecil
Tidak perlu langsung membahas hal besar. Mulailah dari percakapan ringan. Proses ini bertujuan memulihkan rasa aman terlebih dahulu. - Pertimbangkan Konseling atau Terapi
Jika hubungan terasa terlalu berat, bantuan profesional seperti psikolog atau konselor keluarga bisa menjadi jembatan yang aman dan netral. - Belajar Menerima Tanpa Memaksakan
Pada akhirnya, penerimaan adalah kunci. Bukan berarti melupakan luka, tetapi mengizinkan diri untuk melanjutkan hidup tanpa terus terbebani energi masa lalu.
Penutup
Sekecil apa pun langkahmu memahami diri sendiri, itu tetap sebuah proses penyembuhan. Suatu hari nanti, usaha yang kamu lakukan hari ini mungkin menjadi jalan menuju hubungan keluarga yang lebih hangat dan sehat.
Kamu layak memiliki kedamaian. Dan prosesmu valid.
Penulis: Mita Putri








