Suara Kita News.com, Di tengah denyut peradaban modern Karawang, berdiri tegak seorang penjaga warisan leluhur, yang dikenal dengan sebutan Ki Gelung. Julukan ini tak lepas dari penampilan khasnya: rambut panjang yang setiap hari senantiasa digulung rapi, sebuah penanda kesetiaan pada tradisi dan filosofi yang mendalam. Ki Gelung, seorang budayawan sejati Karawang, memandang seni bukan sekadar hiburan, melainkan jembatan penghubung antara masa lalu, masa kini, dan adat istiadat yang mengukir peradaban.
Jiwa seni Ki Gelung gelisah melihat kondisi Kampung Budaya Karawang yang kini seolah terlelap dalam ketidak-terawatan. Meskipun demikian, denyut kehidupan tak sepenuhnya padam; setiap hari Minggu, lokasi ini tetap ramai didatangi masyarakat untuk berekreasi dan berolahraga, menghidupkan kembali roh tempat itu, meski dalam wajah yang lusuh. Keramaian yang berbalut keprihatinan inilah yang memantik bara semangat Ki Gelung.
Dari kegelisahan tersebut, lahirlah sebuah gagasan mulia: Saung Paniisan.Saung Paniisan: Menghidupkan Kembali “Paniisan” Leluhur.

Dengan modal swadaya, Ki Gelung menyulap lahan Kampung Budaya yang tak terawat menjadi sebuah paniisan (tempat berteduh/menenangkan diri) yang rapi dan memikat. Saung Paniisan bukan sekadar tempat singgah, melainkan sebuah instalasi seni dan budaya yang menghadirkan kembali nafas masa lampau.
Ornamen dan asesoris tradisional zaman dahulu ditata apik, menciptakan suasana pedesaan yang damai. Pengunjung disuguhi pemandangan hamparan sawah yang menyejukkan mata dan irama gemercik air yang mendamaikan telinga, seolah-olah waktu ditarik mundur ke era kearifan leluhur.
Konsep utama Saung Paniisan adalah mengembalikan nuansa pedesaan dengan tradisi leluhur, membiarkan pengunjung merasakan kenyamanan, kesejukan, dan yang utama: menyatu dengan alam semesta.
Salah satu bangunan di Saung Paniisan sengaja dirancang dengan konsep tradisional yang kental, membawa pesan moral yang sangat mendalam:
“Manusia wajib manunggal (menyatu) dengan alam. Menjaga lingkungan agar tetap bersih, asri, dan tidak merusak demi kepentingan pribadi. Dan yang tak boleh lekang: senantiasa ingat kepada Sang Pencipta, yang telah menganugerahkan alam semesta ini sebagai sumber kehidupan bagi umat manusia.”
Pesan ini adalah intisari dari ajaran leluhur kita, sebuah pitutur (nasihat) agar manusia menjalani hidup dengan eling (sadar) dan waspada (hati-hati), menghormati bumi sebagai ibu kehidupan.
Saung Paniisan Ki Gelung adalah monumen hidup yang membuktikan bahwa warisan budaya tak harus berakhir di museum. Ia dapat menjelma menjadi ruang publik yang inovatif, menarik, dan relevan, mengajarkan generasi kini tentang makna sejati paniisan—tempat menenangkan jiwa, tempat berkaca pada tradisi, dan tempat kembali menyadari bahwa kita adalah bagian tak terpisahkan dari semesta. Ki Gelung telah mewariskan lebih dari sekadar saung, ia mewariskan sebuah Kidung Jiwa Karawang yang tak akan pernah pudar.
Penulis : Yerrydewa






