Suara Kita News.com, Langit Purwakarta sore itu bukan hanya saksi bisu, melainkan juga panggung resonansi. Seratus grup drum band — total ribuan penabuh — melepaskan dentuman sinkron yang merobek sunyi, sebuah pertunjukan yang lebih dari sekadar angka. Itu adalah deklarasi kultural yang mengguncang narasi lama tentang hubungan antara pemerintah dan rakyat.

Kabupaten Purwakarta baru saja menobatkan diri dalam sejarah Musium Rekor Dunia Indonesia (MURI), melibas rekor lama 72 grup dari Pringsewu, Lampung. Namun, jurnalisme inovatif melihat lebih dalam dari sekadar pencapaian kuantitas. Inti dari peristiwa kolosal ini bukanlah rekornya, melainkan suara kolektif yang dibawanya.
Di jantung perhelatan ini berdiri nama H. Elan Sopyan, anggota DPRD sekaligus Ketua LSM GMBI Distrik Purwakarta. Ia adalah arsitek di balik harmoni ribuan orang ini—sosok yang menjembatani politik, organisasi masyarakat (Ormas), dan semangat seni. Kehadirannya menggeser paradigma: seorang politisi/aktivis tidak hanya bergerak di ruang sidang atau demonstrasi, tetapi mampu menyatukan potensi daerah dalam sebuah ritus kebanggaan bersama.
Momentum puncak, di mana Bupati Purwakarta Om Zein berdiri berdampingan dengan H. Elan Sopyan saat menerima plakat MURI, adalah simbolisasi visual yang kuat. Ini adalah penegasan bahwa di Purwakarta, ego politik dan ego sektoral telah ditundukkan demi irama kepentingan bersama. Pemerintahan dan masyarakat sipil, yang kerap digambarkan berseberangan, kini menabuh ritme yang sama.
Gema genderang Purwakarta ternyata memiliki daya getar politik hingga ke daerah tetangga. Kehadiran April, Kepala Kesekretariatan DPD LSM GMBI Distrik Karawang, menjadi titik fokus analisis naratif yang tajam.
April memberikan apresiasi tulus, menyebut kolaborasi ini sebagai “bukti nyata bahwa sinergi itu bukan wacana.” Namun, pernyataan lanjutannya adalah sebuah kritik strategis yang dibungkus harapan:
“Kami berharap Pemerintah Daerah Karawang, terutama Bupati Karawang, dapat membuka ruang yang sama: ruang untuk duduk bersama, merangkul ormas dan LSM, serta melangkah seiring membangun daerah. Kolaborasi seperti ini bukan hanya menciptakan prestasi, tapi juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap masa depan daerah kita sendiri.”
Ini adalah momen jurnalisme yang langka: sebuah keberhasilan lokal (Purwakarta) digunakan sebagai cermin refleksi kritis untuk administrasi daerah lain (Karawang). Pesan April jelas: Rekor MURI Purwakarta adalah outcome dari relasi yang sehat, sementara pembangunan Karawang mungkin terhambat oleh absennya relasi yang setara tersebut. Pertanyaan yang tersirat adalah: Mengapa Karawang, dengan potensi dan sumber daya yang besar, belum mampu menciptakan ‘irama kebersamaan’ serupa?
Di tengah dentum snare yang presisi dan tiupan mellophone yang melengking, terselip pesan filosofis pembangunan. Artikel ini menyimpulkan bahwa kemajuan sebuah daerah bukan sekadar kalkulasi proyek fisik atau besaran anggaran.
Pembangunan adalah tentang ‘irama kebersamaan.’ Genderang yang seratus ditabuh serentak melambangkan keselarasan energi dari 100 elemen berbeda—sekolah, ormas, pemda, hingga aparat keamanan—yang setuju untuk bergerak dalam satu tempo.
Purwakarta telah menemukan irama itu. Kini, bola salju tantangan telah menggelinding ke Karawang dan daerah-daerah lain di Jawa Barat. Akankah mereka hanya terpaku mendengarkan gema yang datang dari tetangga, ataukah mereka akan mengambil tongkat penabuh, dan mulai menemukan irama kolaborasi mereka sendiri?
Waktu akan menjawab, namun dentuman dari Purwakarta telah mengirimkan pesan: Suara kolaborasi selalu menggema jauh lebih keras dan abadi daripada ambisi tunggal siapa pun.
Penulis : Yerrydewa






