Suara Kita News.com, ANALISIS SEJARAH ISLAM – Di antara deretan murid Sunan Gunung Jati, terdapat satu sosok yang penampilannya paling mencolok: Syekh Magelung Sakti. Julukan ini diberikan karena kebiasaannya menggelung rambut panjangnya yang konon tak bisa dipotong oleh benda tajam manapun. Kisah hidupnya adalah perpaduan epik antara kecerdasan sufi di Timur Tengah, kehebatan militer, dan pencarian spiritual yang membawanya hingga ke pesisir Cirebon.
Berdasarkan Babad Cirebon, Syekh Magelung Sakti memiliki nama asli Syarif Syam dan berasal dari Syria.
Sejak kanak-kanak, Syarif Syam sudah dikenal jenius. Di usia 7 tahun, ia sudah mendapat julukan “sufi cilik”, dan pada usia 11 tahun, ia sudah menjadi pengajar termuda di pusat-pusat ilmu ternama seperti Madinah, Makkah, hingga Masjidil Aqsa.
Namun, ia juga dihujat. Rambutnya yang terus memanjang dan tak terurus membuatnya dianggap melanggar tatakrama ulama. Penampilannya yang unik ini ternyata merupakan sebuah karomah (keajaiban) sejak lahir: rambutnya kebal terhadap benda tajam apapun.
Di usia 30 tahun, keunikan ini justru membawanya ke puncak militer. Ia direkrut oleh Istana Mesir dan diangkat menjadi panglima perang melawan pasukan Romawi dan Tartar. Di medan perang, ia tak butuh pedang yang rumit; ia hanya perlu mengibaskan rambutnya yang panjang dan keras mirip kawat baja ke arah musuh. Ia masyhur sebagai Panglima Mohammad Syam Magelung Sakti, tak tertandingi selama 12 tahun.
Meskipun jaya di medan laga, Syarif Syam merasa hampa. Di usia 34 tahun, ia mendapat petunjuk spiritual yang mengharuskannya mencari seorang guru pembimbing—guru yang juga mampu memotong rambut saktinya.
Ia meninggalkan Istana Mesir dan memulai pengembaraan panjang, mengarungi dunia dengan perahu kecil, mendatangi berbagai waliyullah terkenal di Libanon, Yaman, Beirut, hingga Samarkand. Namun, tak satu pun yang sanggup memotong rambutnya.
Titik baliknya tiba di perbatasan Selat Malaka, di mana ia mendapat petunjuk dari pertapa sakti Resi Purba Sanghyang Dursasana: Sang Wali yang dicari berada di Tanah Jawa, tepatnya di Cirebon.
Setibanya di Cirebon, nazarnya pun terpenuhi. Ia bertemu dengan seorang tua yang dengan mudahnya memotong rambutnya. Lokasi pemotongan rambut itu kini dikenal sebagai Karanggetas. Orang tua itu tak lain adalah Sunan Gunung Jati.
Sesuai nazarnya, Syarif Syam menjadi murid Sunan Gunung Jati dan diberi nama baru: Pangeran Soka. Ia kemudian ditugaskan menyebarkan Islam di Cirebon bagian Utara, di mana ia juga mendapat gelar Pangeran Karangkendal.
Kisah hidupnya kian romantis ketika ia mengikuti sayembara untuk menikahi Nyi Mas Gandasari, bangsawan cantik yang mencari pasangan hidup melalui adu kesaktian. Pertarungan antara dua sosok sakti ini begitu sengit. Ketika Nyi Mas Gandasari terdesak dan berlindung di balik punggung Sunan Gunung Jati, Syekh Magelung Sakti bahkan hampir saja mengenai kepala gurunya dengan tinju.
Pertarungan itu dinyatakan Sunan Gunung Jati tidak ada yang kalah atau menang, tetapi pernikahan tetap dilangsungkan. Bersama Nyi Mas Gandasari, Syekh Magelung Sakti melanjutkan dakwah di Tanah Jawa hingga akhir hayatnya. Makamnya kini menjadi salah satu situs ziarah penting di Desa Karangkendal, Cirebon, mewariskan kisah kesaktian yang tunduk pada kerendahan hati seorang guru sejati.
Penulis : Yerrydewa






