Suara Kita News.com, PELABUHAN RATU – Di sepanjang garis pantai selatan Jawa Barat, tepatnya di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, terdapat sebuah nama yang begitu disakralkan, yang kisahnya melampaui batas nalar: Eyang Haji Gentar Bumi atau dikenal pula sebagai Wali Sakti Qudratullah. Sosok ini bukan hanya ulama biasa, melainkan figur sentral yang diyakini masyarakat sebagai penjaga spiritual utama benteng selatan Pulau Jawa.

Keyakinan lokal menyebutkan bahwa beliau adalah seorang wali yang diberi karomah luar biasa dan amanah besar oleh Allah SWT untuk melindungi wilayah tersebut dari segala ancaman, baik yang bersifat lahir maupun batin. Tak heran jika ia dijuluki “Wali Sakti” oleh generasi turun-temurun.
Kharisma Eyang Haji Gentar Bumi berakar dari garis keturunan yang mulia, yakni dari trah Wali Cirebon dan ulama Garut. Masa kecilnya dihabiskan di sebuah pesantren di Garut, tempat ia tidak hanya mendalami ilmu agama tetapi juga ilmu hikmah dan kadigdayaan (kesaktian).
Setelah dianggap matang secara spiritual dan keilmuan, beliau memulai perjalanan dakwah dan pengembaraan yang legendaris. Jejak dakwahnya tak hanya diwarnai oleh ceramah, tetapi juga aksi nyata yang mengubah tatanan sosial setempat.
Uniknya, Eyang Haji Gentar Bumi dikenal tidak hanya mengalahkan tokoh-tokoh sakti dan para pengacau pada zamannya, tetapi juga mengajak mereka bertobat dan menjadi santri. Keberhasilannya mengubah lawan menjadi murid adalah bukti nyata kekuatan akhlak dan spiritual yang ia miliki, yang jauh lebih ampuh daripada ilmu bela diri.
Salah satu babak terpenting dalam sejarah dakwahnya terjadi di kawasan kaki Gunung Halimun. Wilayah ini pada masa itu menjadi tempat persembunyian para pelarian Laskar Pajajaran pasca keruntuhan kerajaan mereka.
Melalui pendekatan dakwah yang bijaksana dan tanpa kekerasan, Eyang Haji Gentar Bumi berhasil mengislamkan para pelarian tersebut. Mereka kemudian berintegrasi dan menjadi bagian dari komunitas santri, menandai transformasi besar dari basis militer menjadi pusat keagamaan.
Kini, keberadaan beliau di Pelabuhan Ratu bukan sekadar cerita masa lalu. Warisan spiritual dan keyakinan akan peran Wali Sakti Qudratullah tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Makam beliau bahkan menjadi salah satu titik ziarah penting yang terus dikunjungi, melambangkan simbol kekuatan spiritual dan panutan dalam perjuangan tanpa pamrih.
Fenomena makam dan tokoh spiritual yang nyaris tak tercatat dalam sejarah resmi namun kuat dalam ingatan kolektif masyarakat sering terjadi di Indonesia. Menurut Anda, mengapa cerita lisan seperti ini bisa bertahan lebih lama dibandingkan naskah tertulis?






