Suara Kita News.com, ANALISIS SEJARAH – Namanya mungkin tidak sepopuler Marco Polo, tetapi jejak langkahnya jauh lebih luas. Selama berpuluh-puluh tahun, seorang ulama, hakim, dan diplomat asal Maroko bernama Ibnu Battuta mengelilingi dunia dengan jarak tempuh yang kini sulit dibayangkan, melebihi 120.000 kilometer. Kisah perjalanan epiknya nyaris hilang dari ingatan, bahkan di kalangan umat Islam sendiri.
Perjalanannya yang berlangsung selama hampir tiga dekade (sekitar 1325 hingga 1354 M) menjadikannya penjelajah agung abad ke-14. Jika Marco Polo fokus pada rute timur-barat, Ibnu Battuta menyusuri hampir seluruh dunia Islam dan sekitarnya: dari Afrika Utara, Timur Tengah, India, Asia Tengah, hingga mencapai pelosok Tiongkok dan bahkan Kepulauan Melayu (Nusantara).
Bukan Sekadar Musafir, Tapi ‘Duta Peradaban’ Abad ke-14
Kehebatan Ibnu Battuta terletak pada peran gandanya di setiap negeri yang ia singgahi. Ia tidak hanya berjalan; ia mencatat, mengamati, dan berinteraksi. Berbekal ilmu agama dan hukum, ia sering diangkat sebagai Hakim (Qadi) atau diutus sebagai diplomat oleh penguasa setempat.
Catatannya sangat detail, mencakup:
Budaya dan Adat: Mencatat kebiasaan unik masyarakat di berbagai peradaban.
Hukum dan Pemerintahan: Mendokumentasikan sistem yudisial dan politik lokal.
Kehidupan Sosial: Memberikan gambaran berharga tentang kondisi ekonomi, pasar, dan kehidupan sehari-hari di Abad ke-14.
Seluruh pengalamannya tersebut ia tuangkan dalam sebuah karya monumental berjudul “Rihlah” (Perjalanan). Selama berabad-abad, Rihlah sempat terlupakan, padahal isinya memberikan gambaran yang sangat berharga tentang peradaban global pada masa itu—sebuah sumber primer yang memperkaya pemahaman dan peta dunia modern.
Dari sudut pandang modern, informasi yang dibawakan Ibnu Battuta menawarkan perspektif unik tentang interaksi peradaban global sebelum era penjelajahan Eropa besar-besaran. Keberaniannya menyusuri Samudra Hindia hingga singgah di Nusantara menjadi bukti betapa luasnya jaringan pelayaran dan perdagangan global yang telah terjalin pada abad ke-14.
Ibnu Battuta adalah penjelajah yang harus kembali diangkat ke permukaan sejarah. Kehebatannya bukan hanya pada panjangnya jarak tempuh, tetapi pada kedalaman informasi dan wawasan yang ia tinggalkan untuk dunia.
Penulis : YD






