Suarakitanews – Kita adalah bangsa yang mudah lupa. Itulah kenyataan pahit yang dirasakan warga Lebung Itam, desa kecil yang setiap tahun harus bersiap menghadapi kabut asap karhutla. Trauma ini sudah seperti rutinitas tahunan yang menjemukan.
Mereka tahu, cepat atau lambat, kabut asap akan datang kembali. Maka, meski udara sedang bersih, mereka selalu berjaga-jaga. Saat ditanya, “Tahun ini sudah ada asap?” mereka menjawab singkat: “Belum.” Bukan “tidak ada.” Jawaban itu seolah mengandung kepastian bahwa kabut asap akan muncul lagi, seperti hantu yang selalu menghantui.
Mengapa Kabut Asap Terus Berulang?
Kabut asap karhutla bukanlah peristiwa alam semata. Kebakaran hutan dan lahan gambut yang hampir selalu terjadi setiap musim kering di Indonesia adalah akibat dari praktik pembukaan lahan yang tidak ramah lingkungan.
Sayangnya, penegakan hukum terhadap perusahaan pembakar lahan masih sangat lemah. Inilah yang membuat bencana ini terus berulang. Jika pemerintah benar-benar hadir untuk melindungi rakyatnya, mengapa hak warga Lebung Itam atas udara bersih dan sehat seakan dibiarkan menguap?
Kabut Asap, Krisis Iklim, dan Kita Semua
Perlu diingat, kabut asap karhutla bukan hanya masalah warga Lebung Itam. Kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia telah menyumbang emisi karbon dalam jumlah besar. Hal ini memperparah krisis iklim yang kini dampaknya dirasakan oleh kita semua.
Panas ekstrem, banjir bandang, hingga perubahan cuaca yang tidak menentu adalah akibat langsung dari iklim yang kian terganggu. Jadi, meski kita tinggal jauh dari Lebung Itam, kita tetap ikut terdampak.
Saatnya Tidak Lagi Abai
Ancaman kabut asap akan terus mengintai jika kita terus mengabaikannya. Inilah saatnya mendukung perjuangan warga Lebung Itam untuk merdeka dari asap. Karena pada akhirnya, perjuangan mereka juga adalah perjuangan kita bersama: memperjuangkan hak atas udara bersih dan masa depan yang lebih sehat bagi generasi mendatang.
Penulis: Mita Putri








