Suarakitanews.com – Emotional eating adalah kebiasaan di mana seseorang mengandalkan makanan sebagai satu-satunya cara untuk mengelola emosi. Kondisi ini sering kali tidak disadari karena terasa seperti lapar biasa. Padahal, emotional eating sangat berbeda dengan lapar secara fisik dan jika dibiarkan, bisa berdampak negatif pada kesehatan mental maupun fisik.
Apa Itu Emotional Eating?
Secara sederhana, emotional eating adalah makan sebagai respons terhadap emosi, bukan karena tubuh benar-benar membutuhkan asupan energi. Hal ini biasanya dipicu oleh stres, kesedihan, kecemasan, kebosanan, atau perasaan kesepian. Makanan berperan sebagai pelarian emosional yang bersifat sementara.
Perbedaan Emotional Eating dan Lapar Fisik
Memahami perbedaan antara lapar emosional dan lapar fisik sangat penting agar kita bisa lebih sadar terhadap apa yang dibutuhkan tubuh kita.
| Lapar Fisik | Lapar Emosional |
|---|---|
| Muncul perlahan, biasanya 4–5 jam setelah makan terakhir | Muncul tiba-tiba dan terasa mendesak |
| Ditandai dengan bunyi perut dan rasa lapar di perut | Terasa di kepala/pikiran, bukan di perut |
| Hilang setelah makan secukupnya | Tetap terasa bahkan setelah makan |
| Tidak memilih makanan secara spesifik | Menginginkan makanan tertentu, seperti yang tinggi gula, lemak, dan garam |
| Meninggalkan perasaan puas dan netral | Menyebabkan rasa bersalah atau penyesalan setelah makan |
Penyebab Umum Emotional Eating
Beberapa penyebab umum emotional eating antara lain:
- Kesulitan mengelola emosi seperti marah, cemas, sedih, bosan, atau kesepian.
- Jam tidur yang tidak teratur yang memicu hormon lapar (ghrelin).
- Kelelahan fisik maupun mental akibat memforsir diri secara berlebihan.
- Trauma masa lalu yang belum terselesaikan.
- Pola asuh masa kecil, misalnya saat anak menangis, diberikan makanan sebagai penenang.
Apple Test: Cara Sederhana Menguji Lapar Emosional
Jika kamu merasa lapar, coba tanyakan pada diri sendiri:
“Kalau ada buah apel di meja, apakah aku mau memakannya?”
Jika jawabannya tidak, kemungkinan besar kamu sedang mengalami lapar emosional. Ini adalah sinyal bahwa keinginanmu untuk makan dipicu oleh emosi, bukan kebutuhan fisik.
Cara Mengatasi Emotional Eating Tanpa Makanan
Emotional eating bukanlah sebuah gangguan mental, melainkan kebiasaan yang masih bisa diubah. Berikut beberapa pendekatan alternatif yang bisa dilakukan sesuai dengan jenis emosi yang dirasakan:
1. Sedih
Coba dengarkan lagu nostalgia, menonton film atau video yang menyentuh untuk mengeluarkan emosi lewat air mata.
2. Cemas
Berdiri dan getarkan tubuh ke atas dan ke bawah selama 2–3 menit untuk membantu menyalurkan energi gugup.
3. Bosan
Keluar dari ruangan dan jalan-jalan ringan selama 10–15 menit untuk mengubah suasana dan merangsang otak.
4. Marah
Berteriak ke dalam bantal atau melompat sebanyak 10 kali untuk melepaskan ketegangan tubuh.
5. Stres
Tulis apapun yang kamu rasakan dalam jurnal atau kertas, meskipun berantakan, yang penting emosimu tersalurkan.
Emotional Eating Bisa Diatasi
Ingat, emotional eating adalah respons alami terhadap tekanan emosional dan bukan sesuatu yang harus kamu lawan sendirian. Dengan mengenali pemicunya dan menerapkan strategi pengalihan yang tepat, kamu bisa mengembangkan kebiasaan makan yang lebih sadar dan sehat.
Penulis : Mita Putri
Sumber : website mindfulivy








