Suarakitanews.com – Menjelang bulan suci Ramadhan, tradisi ziarah kubur menjadi salah satu ritual penting bagi sebagian besar umat Islam di Indonesia. Tidak sekadar kunjungan ke makam, ziarah menjadi momen reflektif, penuh makna spiritual, budaya, dan emosional.
Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Nurhadi Magetsari, praktik ziarah memiliki akar sejarah yang panjang. Bahkan pada masa prasejarah, nenek moyang kita sudah mempercayai adanya kehidupan setelah kematian. Hal ini terlihat dari temuan bekal kubur berupa manik-manik, gerabah, hingga senjata, yang diyakini akan berguna di alam berikutnya.
Namun, apa yang membuat ritual ini terus bertahan hingga kini?
Ziarah menjelang Ramadhan atau Idul Fitri bukan hanya tentang doa bagi orang yang telah tiada, tapi juga menjadi momen pulang kampung dan menyambung kenangan masa lalu. Seperti yang diungkapkan Dadan, “Pulang kampung itu berarti ziarah makam, ziarah kenangan masa kecil.”
Bagi Lina, ziarah menjadi bentuk harapan akan doa dari generasi setelahnya. Sedangkan bagi Rita, ziarah menjadi sarana curhat spiritual yang seringkali disusul dengan datangnya rezeki.
Antropolog Geger Riyanto menyebut praktik ziarah berakar dari konsep ancestor hood, yakni keyakinan bahwa leluhur memiliki peran penting dalam kehidupan keturunannya. Di sisi lain, menurut intelektual NU, Ahmad Suaedy, ziarah kini juga dipandang sebagai amalan berpahala menjelang Ramadhan.
Dengan beragam dimensi makna—spiritual, emosional, dan budaya—tidak heran jika tradisi ziarah kubur terus hidup dan diwariskan lintas generasi di Indonesia.
Penulis : Mita Putri
Sumber : instagram @bbcindonesia








