Suarakitanews.com – Burung Maleo Sulawesi (Macrocephalon maleo) adalah permata endemik Pulau Sulawesi yang dikenal dengan kesetiaannya pada pasangan hingga akhir hayat. Namun, kini, nasib burung unik yang dijuluki “lahir dari kuburan” ini berada di ujung kepunahan. Selain itu, ancaman serius datang dari perambahan hutan besar-besaran, terutama ekspansi perkebunan kelapa sawit yang merusak habitat alaminya.
Mochamad Indrawan, seorang ahli biologi konservasi, mengungkapkan beberapa faktor utama yang mendorong penurunan populasi Maleo. Salah satunya adalah hilangnya habitat akibat penebangan kayu dan pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit. Akibatnya, sumber makanan Maleo dan koridor untuk bertelur pun turut terganggu.
Meskipun demikian, harapan untuk menyelamatkan Maleo masih ada. Untuk itu, langkah krusial yang harus diambil adalah melindungi habitatnya. Di kawasan Bakiriang, Sulawesi Tengah, misalnya, upaya konservasi sangat mendesak mengingat seperempat hutan di sana telah berubah menjadi kebun sawit.
Sementara itu, sejarah mencatat kejayaan Maleo di Sulawesi. 165 tahun yang lalu, naturalis Inggris Alfred Russel Wallace menggambarkan pantai Sulawesi yang “hitam” oleh ribuan Maleo. Pada tahun 1991, Mochamad Indrawan sendiri menyaksikan sekitar 200 Maleo bersarang di bibir pantai hutan Bakiriang. Namun, pemandangan itu kini menjadi langka. Di sarang yang sama, menemukan dua hingga empat ekor Maleo dalam sehari sudah dianggap keberuntungan.
Maleo Sulawesi
Burung Maleo Sulawesi, dengan ciri khas ukuran tubuhnya yang bulat sedikit lonjong (50-55 cm) dan bulu mengkilapnya, memang unik. Bahkan, proses perkembangbiakannya pun luar biasa. Dijuluki “lahir dari kuburan”, Maleo mengubur telurnya yang berukuran lima kali lebih besar dari telur ayam kampung (11 x 6 cm) selama 60 hari. Telur-telur ini menetas berkat panas alami bumi dan sinar matahari, dan anak Maleo yang baru menetas akan bangkit sendiri dari dalam tanah.
Djaling Sopyan, Juru Kunci Hutan Bakiriang, mengungkapkan bahwa Maleo memiliki banyak predator alami seperti elang, ular, dan biawak. Namun demikian, predator yang paling berbahaya bagi kelangsungan hidup Maleo adalah manusia.
Dengan demikian, untuk melindungi Maleo Sulawesi dari kepunahan, diperlukan upaya bersama yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan perusahaan perkebunan. Langkah konkret yang perlu dilakukan adalah penetapan dan penegakan hukum terhadap kawasan konservasi, serta penerapan praktik perkebunan yang berkelanjutan yang tidak merusak habitat Maleo. Hanya dengan demikian, kita dapat memastikan agar kisah kesetiaan Maleo Sulawesi tidak berakhir dalam catatan sejarah kepunahan.
Penulis : Mita Putri
Sumber : instagram @bbcindonesia






