Jakarta, Suarakitanews.com – IHSG Indeks Harga Saham Gabungan, mengalami kejatuhan hampir 7 persen pada sesi pertama perdagangan Selasa (19/3). Akibatnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa melakukan penghentian sementara perdagangan saham untuk menghindari kerugian lebih lanjut. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kondisi perekonomian Indonesia. Apakah ini pertanda bahwa ekonomi Indonesia sedang ‘sakit’?
Faktor Global: Pengaruh Kebijakan Ekonomi AS
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengaitkan kejatuhan IHSG dengan sentimen global. Salah satu faktor utama adalah kebijakan ekonomi dan perang tarif yang dijalankan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kebijakan ini membuat investor global lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Ketidakpastian global inilah yang turut berkontribusi pada anjloknya IHSG.
Faktor Domestik: Ancaman Lebih Besar bagi Pasar Saham
Namun, berbeda dengan pandangan BEI, ekonom Wijayanto Samirin menilai bahwa pelemahan IHSG lebih didominasi oleh faktor domestik. Setidaknya ada lima sentimen utama yang menyebabkan IHSG anjlok:
- Defisit APBN dan Fiscal Outlook yang Berat
Data terbaru menunjukkan bahwa hingga Februari 2024, Indonesia telah mengalami defisit sebesar Rp31,2 triliun atau sekitar 0,13 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini mencerminkan tekanan besar pada keuangan negara dan meningkatkan kekhawatiran di pasar. - Kebijakan Pemerintah yang Tidak Realistis
Beberapa kebijakan yang diterapkan pemerintah dianggap tidak realistis dan kurang mempertimbangkan aspek teknokrasi yang jelas. Hal ini menambah ketidakpastian di kalangan investor. - Isu Revisi Undang-Undang TNI
Rencana revisi Undang-Undang TNI yang menuai kontroversi di masyarakat turut berkontribusi pada tekanan terhadap pasar saham. - Mega Korupsi di BUMN
Kasus korupsi di berbagai BUMN merusak kepercayaan publik dan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Kepercayaan yang rendah berdampak langsung pada aksi jual besar-besaran di pasar saham. - Kekhawatiran Terhadap Rating Kredit Indonesia
Fitch dan Moody’s dijadwalkan mengumumkan penilaian kredit Indonesia pada Maret-April, sementara S&P akan mengumumkan rating pada Juni-Juli. Kekhawatiran mengenai kemungkinan penurunan peringkat kredit menyebabkan kepanikan di pasar modal.
Tanda-Tanda Perekonomian Indonesia Sedang Melemah?
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita, menyatakan bahwa kondisi yang terjadi di pasar saham ini adalah indikasi bahwa ekonomi Indonesia tidak dalam keadaan baik-baik saja. Banyak investor yang mulai kehilangan kepercayaan terhadap aset di Indonesia dan lebih memilih menarik dana mereka dari pasar saham.
Ronny juga menyoroti kekhawatiran investor terhadap keterlibatan militer dalam BUMN dan sektor bisnis lainnya. Menurutnya, jika militer semakin banyak terlibat dalam ekonomi, maka para pelaku usaha, terutama di pasar modal, akan semakin khawatir. Hal ini dapat menyebabkan ketidakpastian yang lebih besar dan memperburuk kondisi pasar saham.
Kesimpulan
Anjloknya IHSG hampir 7 persen bukan sekadar fenomena sesaat. Kombinasi faktor global dan domestik menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sedang menghadapi tantangan besar. Dari defisit APBN, kebijakan ekonomi yang tidak stabil, hingga krisis kepercayaan terhadap pemerintah, semuanya berkontribusi terhadap gejolak pasar modal.
Investor perlu mencermati perkembangan ini dengan bijak dan mempertimbangkan strategi investasi yang lebih hati-hati. Di sisi lain, pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan memastikan stabilitas ekonomi jangka panjang.
Penulis : Mita Putri
Sumber : instagram @cnnindonesia








