Suarakitanews.com – Rencana eksplorasi Blok Warim di Distrik Agimuga, Kabupaten Mimika, Papua, kembali mengusik luka lama masyarakat Amungme. Bayang-bayang peristiwa kelam tahun 1977, di mana ribuan warga sipil menjadi korban operasi militer, masih menghantui mereka hingga kini.
“Kami takut peristiwa 1977 itu kembali terjadi,” ungkap Maria, seorang perempuan Amungme. Ketakutan ini bukan tanpa alasan. Sejarah telah mencatat bagaimana eksploitasi sumber daya alam di Papua seringkali diiringi dengan kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia.
Emas Papua: Incaran Sejak Abad ke-20
Kekayaan alam Papua telah lama menjadi incaran berbagai pihak, mulai dari penjajah Belanda hingga kekuatan asing lainnya. Pada abad ke-20, emas menjadi komoditas utama yang menarik perhatian dunia. Geolog Belanda, Jean Jacques Dozy, menemukan cadangan emas yang sangat besar di wilayah Nemangkawi Ninggok pada tahun 1930-an. Penemuan ini kemudian dimanfaatkan oleh PT Freeport Indonesia sejak tahun 1973.
Janji Manis yang Tak Terpenuhi
Meskipun perusahaan tambang menjanjikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar, nyatanya banyak masyarakat adat Papua yang masih hidup dalam kemiskinan. Perjanjian 1974 yang mengatur hubungan antara Freeport dan masyarakat Amungme, misalnya, dinilai tidak efektif dalam melindungi hak-hak masyarakat adat.
“Perusahaan ini masuk tanpa ada penjelasan apapun kepada kami, sehingga kami anggap perusahaan tersebut sebagai pencuri,” ungkap Kepala Marga di Kampung Waa.
Siklus Kekerasan dan Eksploitasi
Siklus kekerasan dan eksploitasi yang dialami masyarakat adat Papua menunjukkan adanya pola yang berulang. Kehadiran perusahaan tambang seringkali memicu konflik, merusak lingkungan, dan melanggengkan ketidakadilan.
Veronika Kusumaryati, seorang antropolog, berpendapat bahwa fenomena peminggiran orang asli Papua adalah hasil dari asumsi keliru bahwa mereka tidak memiliki budaya dan peradaban. Padahal, masyarakat adat Papua memiliki pengetahuan tradisional yang sangat kaya tentang pengelolaan sumber daya alam.
Harapan untuk Masa Depan
Meskipun menghadapi tantangan yang berat, masyarakat adat Papua tidak pernah menyerah dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Mereka terus berjuang untuk mendapatkan keadilan, perlindungan, dan pengakuan atas hak-hak ulayat mereka.
Penulis : Mita
Courtesy by @bbcindonesia






