Suarakitanews.com – Beberapa dekade belakangan ini, bumi sedang tidak baik-baik saja. Headline berita bencana akibat perubahan iklim tersebar di mana-mana. Mulai dari peristiwa Tornado di Rancaekek, Bandung, yang merupakan bencana tornado pertama di Indonesia, hingga rekor suhu bulan Maret 2024 yang menjadi suhu terpanas sepanjang sejarah.
Bagi siapa pun yang mengetahui tentang perubahan iklim pasti akan menimbulkan perasaan resah, panik, dan takut. Bahkan sebagian dari mereka juga mungkin merasa terganggu dengan fenomena perubahan iklim, mulai dari terganggunya konsentrasi hingga sampai gangguan tidur. Fenomena ini disebut dengan climate anxiety.
Apa Itu Climate Anxiety?
Secara singkat, climate anxiety adalah perasaan takut, cemas, dan tertekan yang berlebih akibat dari perubahan iklim atau climate change. Semua orang bisa merasakan climate anxiety. Namun, mayoritas kalangan yang mengalami climate anxiety adalah remaja usia 16-25 tahun daripada orang dewasa. Berdasarkan data yang dilansir dari The Lancet, ada sekitar 59 persen remaja mengalami kecemasan yang ekstrem terhadap perubahan iklim.
Ciri-ciri Climate Anxiety
- Insomnia
- Sulit konsentrasi
- Mudah tersinggung
- Perasaan putus asa
- Tidak berdaya
Jika dilihat kembali, ciri-ciri yang ada di atas mendekati simptom anxiety atau depresi pada umumnya. Tetapi, simptom ini muncul ketika mereka memikirkan tentang masalah perubahan iklim yang terjadi. Perlu diketahui jika Climate Anxiety tidak termasuk dalam DSM sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai gangguan kesehatan mental. Namun, Climate Anxiety bisa berdampak dan berkontribusi pada kesehatan mental seseorang.
Dampak Perubahan Iklim pada Kesehatan Mental
Seperti yang sudah dibahas, perubahan iklim tidak hanya berpengaruh pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Kebakaran hutan meningkatkan suhu bumi, banjir, dan lain sebagainya ini, mampu berdampak pada kesehatan mental seperti trauma, anxiety, dan PTSD (Post-Trauma Stress Disorder). Respon ini normal untuk dirasakan oleh siapa pun, apalagi bagi mereka yang pernah merasakan dampak dari perubahan iklim. Jadi, jika kita merasakan perasaan ini jangan khawatir.
Lalu Bagaimana Cara Dealing dengan Climate Anxiety?
- Penting bagi orang tua dan kerabat untuk memvalidasi perasaan mereka tanpa menghakimi apa yang mereka rasakan.
- Jangan lupa menerapkan terapi mindfulness di keseharianmu.
- Kita bisa mengikuti kegiatan sukarela yang berhubungan dengan alam.
- Mengunjungi psikolog atau terapis juga mampu untuk membantu kita mengenali dan mengelola pola pikir kita tentang perubahan iklim.
Kontribusi dalam Melestarikan dan Menjaga Bumi
- Melati: Perbanyak makan sayuran.
- Mawar: Menggunakan transportasi umum.
- Matahari: Menghemat energi dan air.
- Anggrek: Reduce, recycle, reuse.
- Sakura: Menanam pohon (reboisasi).
- Lily: Mengurangi food-waste.








