Suarakitanews.com – Harga obat di Indonesia menjadi sorotan utama, terutama karena obat generik bermerek pun masih tergolong mahal. Bahkan, lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan India. Sebagai contoh, obat kolesterol Lipitor 20 mg di Indonesia bisa mencapai Rp 195.000 per strip, sementara itu di Malaysia hanya sekitar Rp 156.000.
Selain itu, Prof. Tjandra Yoga Aditama, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, juga menyoroti perbedaannya antara di Indonesia dan India. Padahal, obat dengan kandungan yang sama bisa didapatkan dengan harga yang jauh lebih murah di India.
Penyebab Mahalnya Harga Obat di Indonesia
Lantas, apa yang menyebabkan obat di Indonesia mahal? Salah satu faktor utamanya adalah 90% Bahan Baku Obat (BBO) masih diimpor. Oleh karena itu, ketergantungan pada impor membuat harga obat di Indonesia sangat dipengaruhi oleh nilai tukar mata uang dan biaya impor lainnya.
Selanjutnya, rantai distribusi yang panjang juga menjadi penyebab mahalnya harga obat. Setelah keluar dari pabrik, obat harus melalui distributor, pedagang besar, apotek, hingga akhirnya sampai ke tangan konsumen. Tiap mata rantai ini tentu memiliki biaya operasional dan margin keuntungan masing-masing, yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen.
Tak Hanya Itu, biaya promosi obat di rumah sakit juga diduga ikut memengaruhi harga obat. Sebagai contoh, PBF (Pedagang Besar Farmasi) sering memberikan imbalan kepada rumah sakit atau dokter yang menggunakan obat mereka. Imbalan ini bisa berupa dukungan acara kesehatan atau seminar, yang secara tidak langsung mempromosikan merek obat terkait.
Solusi untuk Mengatasi Harga Obat Mahal
Namun demikian, tidak semua obat di Indonesia mahal. Obat generik, terutama yang tidak bermerek dan diproduksi oleh perusahaan lokal, biasanya lebih terjangkau. Oleh sebab itu, masyarakat diimbau untuk memilih obat generik jika obat bermerek dianggap terlalu mahal.
Sebagai solusi, pemerintah perlu mencari faktor utama penyebab mahalnya harga obat dan fokus membenahi rantai produksi dan distribusi obat-obatan. Menurut Pre Agusta, mahalnya harga obat bisa ditelusuri dari tiga lapisan, yaitu pabrik, distributor, dan penjual obat. Dari ketiganya, perlu diidentifikasi siapa yang mengambil keuntungan terlalu besar.
Oleh karena itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah menyampaikan tiga langkah konkret yang akan diambil pemerintah untuk mengatasi persoalan obat, yaitu:
- Mendorong produksi obat dalam negeri
- Memudahkan akses terhadap obat inovatif
- Membuat harga obat menjadi terjangkau
Dengan demikian, diharapkan harga obat di Indonesia bisa lebih terjangkau bagi masyarakat, sehingga akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas juga semakin meningkat.








