
“Memory, bisa dibilang sebagai harta karun terbaik, yang lebih berharga dari berlian, yang tersimpan baik di kepala. Yang terpenting, tidak ada yang bisa mencurinya darimu. – Rodman Philbrick”
Suara Kita News – Amigdala atau si kecil kacang almond yang akan membuat Anda merasakan jantung berdetak lebih cepat, tubuh menegang, dan tubuh berkeringat saat mengalami suatu peristiwa yang menakutkan. Jika Anda pernah merasakannya, itulah ulah pengendali emosi dan perilaku dari otak manusia.
Apa itu Amigdala?
Amigdala, sering disebut sebagai “pusat alarm” otak, memiliki peran krusial dalam mengatur respons emosional kita. Ketika menghadapi ancaman, amigdala akan mengaktifkan respons “fight or flight”, memicu serangkaian reaksi fisik seperti peningkatan detak jantung dan produksi hormon stres. Kerja sama erat antara amigdala dan hipotalamus ini memungkinkan tubuh kita siap menghadapi bahaya.
Jelajah Dunia Emosi: Peran Amigdala
Koneksi antara emosi dan memori ternyata sangat erat. Amigdala, sebagai pusat emosi di otak, berperan penting dalam membentuk dan menyimpan ingatan yang bermuatan emosi. Ketika kita mengalami suatu peristiwa yang memicu emosi yang kuat, seperti kegembiraan, kesedihan, atau ketakutan, amigdala akan bekerja sama dengan hippocampus, bagian otak yang berfungsi sebagai pusat memori, untuk mengukuhkan ingatan tersebut.
Apa Itu Gangguan Amigdala?
Kerusakan amigdala, bagian otak yang mengatur emosi, dapat menimbulkan berbagai gangguan serius pada kehidupan kita. Mulai dari kesulitan mengingat momen emosional hingga mengalami hipervigilans yang memicu reaksi berlebihan terhadap ancaman. Bahkan, aktivitas amigdala yang meningkat dikaitkan dengan kondisi mental seperti depresi, PTSD, gangguan kecemasan, dan bipolar disorder. Cedera pada sistem saraf yang merusak amigdala bisa mengganggu kemampuan kita dalam mengambil keputusan rasional dan membentuk ingatan jangka panjang.
Pentingnya Memperbaiki Fungsi Amigdala
Kerusakan amigdala membutuhkan penanganan yang komprehensif dan disesuaikan dengan akar masalahnya. Selain itu, sangat penting untuk selalu berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental. Dua pendekatan yang umum digunakan adalah psikoterapi, seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), untuk mengidentifikasi dan mengubah pola pikir serta perilaku yang tidak sehat, dan mindfulness untuk mengurangi stres dan depresi yang seringkali menyertai kerusakan amigdala. Dengan menggabungkan kedua pendekatan ini, individu dapat mengalami perbaikan yang signifikan dalam kualitas hidup mereka. (Mita)








