Suara Kita News.com – Dinas Lingkungan Hidup, khususnya Bidang Tata Lingkungan, mengadakan kegiatan sosialisasi untuk memperkenalkan cara mendaur ulang sampah organik. Kegiatan ini ditujukan kepada siswa-siswi SD Mekar Jati 2 dengan tujuan agar mereka dapat memahami manfaat mendaur ulang sampah organik dan cara membuatnya menjadi pupuk
SD Mekar Jati 2 telah memulai langkah baik dalam pelestarian lingkungan dengan program sosialisasi yang berkelanjutan. Dimulai dari tingkat SD, program ini akan terus dikembangkan hingga siswa mencapai jenjang SMP dan SMA. Hari ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dengan bangga memulai kerjasama dengan sekolah ini, memberikan sosialisasi perdana mengenai daur ulang sampah organik kepada siswa-siswi SD.
Menanamkan kesadaran akan pentingnya lingkungan sejak dini adalah kunci untuk masa depan yang lebih baik. SD Mekar Jati 2, dengan dukungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), telah memulai langkah yang tepat dengan mengadakan sosialisasi daur ulang sampah organik. Program ini akan terus berlanjut hingga tingkat SMA, memastikan generasi muda memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menjaga lingkungan.
Kabid Taman DLHK berharap bahwa dengan bekal pengetahuan yang diperoleh hari ini, siswa-siswi dapat menjadi duta lingkungan di sekolah dan lingkungan sekitar. Beliau mengakui bahwa keterbatasan fasilitas menjadi tantangan, namun semangat untuk belajar dan menerapkan pengetahuan baru adalah hal yang paling penting.
Memang tidak mudah bagi siswa SD untuk melakukan proses pengolahan sampah organik secara mandiri. Namun, bapak ibu guru bisa memulai kegiatan ini di lingkungan sekolah. Proses fermentasi biasanya memakan waktu sekitar seminggu. Dengan menggunakan wadah berkapasitas 200 kg, kita bisa menghasilkan pupuk organik hingga 600 kg. Setelah itu, kita bisa memisahkan bagian yang sudah menjadi pupuk melalui ayakan. Bagian yang tidak lolos saringan bisa dijadikan kompos untuk media tanam, sedangkan bagian yang lolos saringan bisa digunakan kembali sebagai starter untuk pembuatan pupuk organik berikutnya
Kami mencatat semua data, mulai dari jumlah sampah organik yang masuk hingga yang sedang dalam proses pengolahan. Semua biaya yang dibutuhkan untuk proses produksi ini sebagian besar berasal dari bantuan pelatihan yang kami dapatkan dari BMJ. Hasil yang kami capai bahkan lebih baik dari yang diharapkan oleh BMJ. Ini menunjukkan bahwa penggunaan mikroorganisme lokal dalam proses pengolahan sampah organik sangat efektif dan menghasilkan pupuk yang berkualitas tinggi dalam waktu yang lebih singkat.”
Semua bahan yang kami gunakan untuk pengolahan sampah organik ini didapatkan dari kerjasama dengan berbagai pihak. Tidak ada satupun bahan yang kami beli. Berkat dukungan mereka, program ini dapat terus berjalan. Saat ini, kami membutuhkan bangunan khusus untuk menyimpan bibit tanaman dalam polybag kecil sebelum dipindahkan ke tempat yang lebih besar.”
Kami berencana bekerja sama dengan universitas, salah satunya Universitas Siak yang memiliki program studi Teknik Lingkungan. Kami sudah mulai berkomunikasi dengan salah satu dosen di sana untuk membahas kemungkinan kerjasama ini. Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi bahan penelitian yang menarik.”
Saya sudah mempelajari beberapa jurnal tentang pengomposan. Ternyata, pengomposan bisa sangat efektif dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, yang nilainya bisa dikonversi menjadi uang. Sayangnya, sebagai pemerintah, kami lebih fokus pada potensi dan manfaat lingkungan dari kegiatan ini, bukan pada nilai ekonomis langsung. Jika dihitung, hasil dari pengolahan sampah organik kita setiap tahun bisa mencapai 39 juta rupiah.
Namun, alih-alih menjual kompos, kami lebih memilih menggunakannya untuk pembibitan dan penanaman di lingkungan sekitar, seperti di Desa Kutawaluya. Kami juga siap membantu desa-desa lain yang ingin memulai program serupa. Kuncinya adalah kemauan dari masyarakat. Jika mereka bersedia belajar dan bertindak, kami siap membantu menyediakan peralatan yang dibutuhkan dengan bekerja sama dengan perusahaan swasta.”






