Suara Kita News. Com, Malam 30 September 1965 menyimpan salah satu teka-teki paling kelam dan paling banyak diperdebatkan dalam sejarah modern Indonesia. Di saat ribuan rahasia negara mulai terkuak seiring berjalannya waktu, satu pertanyaan mendasar tetap menjadi perdebatan abadi di kalangan sejarawan: Sejauh mana Jenderal Soeharto mengetahui rencana penculikan para jenderal sebelum fajar 1 Oktober 1965 menyingsing?
Kunci dari perdebatan panjang ini tersimpan dalam sebuah kesaksian kontroversial dari balik ruang pengadilan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) yang diucapkan oleh Kolonel Abdul Latief—salah satu perwira kunci di balik gerakan tersebut.
Kisah bermula di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, tempat Mayor Jenderal Soeharto—selaku Panglima Kostrad—sedang menunggui putra bungsunya, Hutomo Mandala Putra (Tommy), yang dirawat akibat tersiram sup panas.
Di tengah malam yang senyap itu, Kolonel Abdul Latief—Komandan Brigade Infanteri I Jayasakti—datang menemui Soeharto. Pertemuan singkat ini menjadi titik krusial karena hanya berselang beberapa jam setelahnya, fajar 1 Oktober 1965, Gerakan 30 September (G30S) meletus, merenggut nyawa enam jenderal dan satu perwira pertama Angkatan Darat yang jasadnya kemudian ditemukan di sumur maut Lubang Buaya
Latief ditangkap tidak lama setelah gerakan tersebut gagal total. Namun, baru pada tahun 1978—atau 13 tahun setelah penangkapannya—ia diadili dan divonis hukuman mati (yang kemudian diubah menjadi penjara seumur hidup melalui grasi).
Dalam pleidoinya yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Soeharto Terlibat G30S pada tahun 2000, Latief membeberkan versinya:
Pertemuan Sebelum Hari-H: Dua hari sebelum peristiwa, Latief mengaku sempat mengunjungi rumah Soeharto di Jalan Haji Agus Salim untuk melaporkan isu “Dewan Jenderal” yang berniat mengkudeta Bung Karno. Soeharto saat itu disebut sudah mendengar informasi serupa dari mantan anak buahnya, Subagiyo.
Malam di RSPAD: Latief mengklaim melaporkan rencana gerakan secara langsung kepada Soeharto. Karena tidak ada reaksi penolakan atau tindakan preventif yang tegas dari Soeharto, Latief menganggapnya sebagai bentuk “dukungan moral”.
Gugatan Hukum: Di hadapan pengadilan, Latief balik mempertanyakan tanggung jawab moral: siapakah yang sebenarnya paling bertanggung jawab atas tewasnya para jenderal—dirinya yang sudah melapor, atau Soeharto yang menerima laporan namun tidak memperketat penjagaan?
Di sisi lain, Jenderal Soeharto tidak pernah membantah adanya pertemuan di RSPAD malam itu, namun keterangannya mengalami dinamika dari waktu ke waktu:
- Wawancara Der Spiegel (1970): Soeharto menyatakan bahwa Latief mendatangi dirinya di RSPAD bukan untuk melapor, melainkan berniat untuk membunuhnya, namun niat tersebut diurungkan karena berada di tempat umum.
- Otobiografi (1980-an): Dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, versinya berubah menjadi ia hanya melihat Latief dari kejauhan tanpa sempat melakukan interaksi berarti.
Perbedaan tajam antara kesaksian Latief dan versi resmi militer melahirkan berbagai spekulasi di kalangan akademisi internasional:
- W.F. Wertheim: Sosiolog asal Belanda ini menduga Soeharto berada di lingkaran komplotan, bahkan berspekulasi bahwa Sjam Kamaruzaman (Kepala Biro Chusus PKI) merupakan agen sandi. Dugaan ini langsung dibantah oleh sejarawan lain.
- John Roosa: Dalam buku Dalih Pembunuhan Massal, Roosa menyimpulkan bahwa Sjam adalah kader tulen pimpinan PKI D.N. Aidit. Kendati demikian, Roosa menilai kesaksian Latief sebagai bukti penting bahwa pimpinan tinggi Angkatan Darat sudah mengendus gelagat pergerakan sebelum benar-benar meletus.
Enam dekade berlalu setelah tragedi berdarah tersebut mengubah peta politik Indonesia—mengantar Soeharto memegang tampuk kepresidenan hingga tiga dekade—misteri malam di RSPAD itu tetap menyisakan tanda tanya besar dalam historiografi nasional.






