Suara Kita News. Com – KARAWANG — Langkah besar digulirkan untuk memastikan umat Islam tidak lagi asing dengan kitab sucinya sendiri. Lembaga Pembelajaran Al-Qur’an (LPQQ) resmi menggelar Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur’an dengan mengusung tema provokatif nan menggugah: “Yang Beriman Harus Bisa Membaca Al-Qur’an”.
Ajang konsolidasi akbar ini sukses menghadirkan perwakilan dari 30 kecamatan se-Kabupaten Karawang. Bertempat di Aula Husni Hamid, Pemkab Karawang, Sabtu (15/8/2026), kegiatan ini menjadi titik api penyala semangat literasi Al-Qur’an dari tingkat kabupaten hingga pelosok desa.
Di balik megahnya acara, tersimpan sebuah kegelisahan moral yang mendalam. Berdasarkan data survei Kementerian Agama, mayoritas umat Islam di Indonesia—sekitar 65 persen—masih menghadapi kendala dalam membaca Al-Qur’an.
Hj. Uun, perwakilan pengurus LPQQ dari DPC Rengasdengklok, memaparkan bahwa sasaran program ini sangat inklusif, merangkul lintas generasi mulai dari remaja, lansia, hingga warga dari berbagai kalangan usia yang belum mengenal huruf hijaiyah.
”Peserta yang hadir di sini mayoritas adalah para guru ngaji. Mengapa? Karena mereka adalah garda terdepan yang nantinya mentransfer ilmu kepada masyarakat. Mereka sudah membentuk kelompok-kelompok belajar di wilayah masing-masing,” ujar Hj. Uun saat ditemui awak media.
Gerakan ini menemukan momentum emasnya berkat inovasi metode cepat baca Al-Qur’an yang diciptakan oleh putra daerah Karawang asal Rawamerta, Kiai Mahbub Soleh Zarkasih. Metode yang praktis dan ramah pemula ini terbukti efektif. Bahkan, anak-anak dan masyarakat awam diklaim mampu membaca Al-Qur’an dalam hitungan minggu.
Hebatnya lagi, metode lokal garapan putra daerah ini kini telah menasional, merambah hampir seluruh provinsi di Indonesia hingga tanah Papua.
Gerakan LPQQ tidak berhenti di ruang-ruang kelas atau masjid formal. Program ini juga menyasar tempat-tempat yang kerap luput dari perhatian dakwah konvensional, termasuk lembaga pemasyarakatan (lapas).
”Ada program Training of Trainer (TOT) bagi para mualimu alim (pengajar). Setelah dilatih, metode ini disebarkan langsung ke masyarakat, termasuk ke lapas-lapas warga binaan—baik narapidana pria maupun wanita. Antusiasmenya luar biasa, seperti yang terjadi di Bandung,” ungkap Hj. Uun dengan penuh semangat.
Dengan estimasi peserta dan jaringan penggerak yang telah menembus angka lebih dari 2.000 orang di Karawang, LPQQ optimis gerakan ini mampu memangkas angka buta aksara Al-Qur’an secara signifikan.
”Jika kita menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kita. Ini adalah ikhtiar memuliakan kalam Illahi,” pungkasnya di hadapan ratusan peserta dari berbagai kecamatan seperti Rengasdengklok, Klari, dan wilayah lainnya.
Catatan Redaksi: Di balik suksesnya gawean besar ini, sempat tersiar catatan kritis dari awak media di lapangan terkait insiden miskomunikasi dengan Ketua Panitia, Tatang, yang dikeluhkan bersikap kurang kooperatif terhadap jurnalis peliput. Padahal, kehadiran media merupakan pilar penting dalam mempublikasikan syiar kebaikan
penulis : Yertydewa






