Afrika, Suarakitanews – Selama berabad-abad, unta dikenal sebagai simbol ketahanan di tengah gurun yang ganas. Namun, narasi ini sedang berubah secara drastis. Dampak panas ekstrem pada unta di Afrika kini menjadi peringatan serius bagi para ilmuwan dan penggembala. Suhu yang terus melonjak melebihi batas toleransi biologis hewan ini menyebabkan penderitaan fisik yang parah, mulai dari luka bakar hingga kematian massal.
Realita Pahit di Wilayah Afar, Etiopia
Wilayah Afar di timur laut Etiopia, yang dikenal sebagai salah satu tempat terpanas di Bumi, menjadi saksi bisu perubahan iklim yang mengerikan. Ali Umer, seorang penggembala lokal, menceritakan pengalaman pribadinya yang memilukan. Dalam sebulan terakhir saja, ia kehilangan delapan anak unta akibat kepanasan.
“Kaki mereka melepuh, mata mereka berair, dan pasir yang panas membakar kulit mereka,” ungkap Ali. Ia menambahkan bahwa angin yang dulunya membawa kesejukan, kini justru menghembuskan hawa panas yang menyiksa. Kondisi ini bukan sekadar ketidaknyamanan sementara, melainkan ancaman eksistensial bagi mata pencaharian ribuan keluarga nomaden.
Data Kematian yang Mengkhawatirkan
Fenomena ini tidak terjadi di vakum. Berbagai studi ilmiah telah mengonfirmasi apa yang dilihat oleh para penggembala. Sebuah penelitian di Somalia menunjukkan tingkat kematian unta yang mencapai hampir 73% di wilayah utara seperti Sool. Sementara itu, di Kenya, dokter hewan melaporkan peningkatan kematian unta sebesar lebih dari 15% dalam dua tahun terakhir akibat hipertermia atau suhu tubuh yang terlalu tinggi.
Mengapa Unta Kini Kewalahan?
Secara alami, unta memiliki mekanisme adaptasi yang luar biasa. Mereka dapat membiarkan suhu tubuh berfluktuasi untuk menghindari berkeringat berlebih dan menghasilkan urin pekat untuk menghemat air. Namun, para ahli dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menjelaskan bahwa ada batasnya.
Ketika suhu lingkungan konsisten berada di atas 40-45 derajat Celsius, sistem pertahanan alami unta runtuh. Profesor Abdelmadjid Chehma dari Aljazair menjelaskan bahwa panas berkepanjangan merusak sel darah putih dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, unta menjadi rentan terhadap infeksi, mengalami penurunan berat badan, serta gangguan reproduksi dan produksi susu.
Krisis Iklim yang Memperparah Keadaan
Selain suhu udara yang mencekik, dampak panas ekstrem pada unta di Afrika diperburuk oleh faktor pendukung lainnya:
- Kelangkaan Air: Penguapan cepat membuat sumber air menyusut drastis. Di Somalia, harga air dilaporkan naik lebih dari 2.000%.
- Hilangnya Vegetasi: Tanaman kering mengurangi pakan alami dan area teduh.
- Layanan Kesehatan Terbatas: Akses ke dokter hewan yang minim memperparah tingkat kematian.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat bahwa Afrika Utara mengalami pemanasan tercepat, yaitu 0,43 derajat Celsius per dekade antara 1991 hingga 2025. Dengan suhu yang sering menembus 50 derajat Celsius, gurun Sahara bukan lagi rumah yang aman bagi penghuni aslinya.
Migrasi Permanen dan Masa Depan Suram
Sebagai respons, banyak penggembala di Etiopia terpaksa melakukan migrasi permanen dari utara ke selatan untuk mencari wilayah yang masih memiliki vegetasi dan air. Ini bukan lagi perpindahan musiman tradisional, melainkan upaya bertahan hidup karena lahan lama sudah tidak layak huni bagi ternak mereka.
Kesimpulan
Unta mungkin adalah hewan gurun, tetapi mereka bukanlah makhluk super yang kebal terhadap perubahan iklim. Dampak panas ekstrem pada unta di Afrika adalah indikator nyata betapa kritisnya situasi iklim global saat ini. Jika gelombang panas terus berlanjut tanpa intervensi strategis seperti penyediaan air darurat dan pengelolaan kesehatan hewan yang lebih baik, kita berisiko kehilangan tidak hanya populasi unta, tetapi juga budaya dan ekonomi masyarakat yang bergantung padanya.






