Suara kita news. Com – KARAWANG – Iklim investasi di Kabupaten Karawang tengah menghadapi tantangan serius. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Karawang mendatangi kantor PLN Kabupaten Karawang, Kamis (2/7/2026), untuk menyuarakan keresahan mendalam terkait ketidakpastian pasokan listrik yang berdampak langsung pada keberlangsungan industri.
Delegasi yang dipimpin oleh Ketua Apindo Kabupaten Karawang, H. Abdul Syukur, S.H., M.H., hadir bersama perwakilan pengelola kawasan industri utama seperti KIM, KIIC, Surya Cipta, dan Indotaice. Kedatangan mereka disambut oleh perwakilan manajemen PLN, Dzikra Arrasyid, beserta jajaran staf.

H. Abdul Syukur menegaskan bahwa saat ini sektor industri di Karawang sedang dalam kondisi yang tidak menentu. Selain terbeban oleh tingginya upah dibandingkan daerah lain seperti Subang dan Purwakarta, ancaman pemadaman listrik menjadi beban tambahan yang membuat investor kehilangan kepercayaan.
”Apindo membawahi 255 perusahaan di Karawang. Gangguan listrik mendadak sangat merugikan. Produksi Kami terdampak dan kehilangan kepercayaan investor asing karena tidak ada penjelasan transparan dari PLN terkait penyebab pemadaman ini,” ujar H. Syukur.
Keresahan serupa disampaikan oleh perwakilan dari industri manufaktur, Ahmad, yang mengaku mengalami kerugian fatal saat listrik padam mendadak di tengah agenda Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dihadiri delegasi dari Jepang. Pemadaman listrik ini menjadi pertanyaan.
Di lain sisi perwakilan dari KIM menegaskan, pemadaman listrik tanpa notifikasi berisiko merusak mesin produksi yang bernilai miliaran rupiah.
Wahyu Pengelola KIIC meminta PLN memberikan notifikasi setidaknya dua hari sebelum pemadaman listrik dilakukan dengan bersurat sehingga tidak ada keaimangsiutan informasi.
Tanpa surat pemberitahuan, perusahaan tidak bisa melakukan mitigasi,” tegasnya.
Dampak ekonomi dari pemadaman ini pun terbilang fantastis. Perwakilan Aki GS mengungkapkan bahwa ketidakpastian pasokan di Karawang membuat investor mulai mengalihkan kapasitas produksi ke Semarang, bahkan ke luar negeri seperti Thailand dan Vietnam.
Tercatat, salah satu perusahaan bahkan mengalami kerugian hingga Rp2,2 miliar akibat tiga kali pemadaman listrik.
penulis : Yerrydewa






